AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20171.27
0.29%
+59.17
N225
26855.30
0.67%
+177.50
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

India Larang Ekspor Gandum, Indonesia Harus Segera Cari Jalan Keluar

ECONOMICS
Athika Rahma
Minggu, 15 Mei 2022 13:03 WIB
Langkah India dalam melarang ekspor gandum diramal berimbas pada ketahanan pangan global.
India Larang Ekspor Gandum, Indonesia Harus Segera Cari Jalan Keluar. (Foto: MNC Media)
India Larang Ekspor Gandum, Indonesia Harus Segera Cari Jalan Keluar. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Langkah India dalam melarang ekspor gandum diramal berimbas pada ketahanan pangan global. Tak terkecuali Indonesia, yang mengimpor gandum 11,7 juta ton tiap tahunnya, juga akan mengalami kekurangan pasokan dalam jumlah besar.

Pengamat ekonomi sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan, bukan tidak mungkin akan terjadi krisis pangan jika hal ini terus berlanjut.

"Iya, tentunya krisis pangan bisa terjadi secara global (imbas pelarangan ekspor gandum India)," ujarnya kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (15/5/2022).

Di sektor makanan dan minuman, harga kebutuhan pokok masyarakat akan naik. Harga pakan ternak juga akan naik karena sebagian campurannya menggunakan gandum.

Untuk itu, Indonesia harus melakukan berbagai langkah mitigasi. Bhima mengatakan, pengusaha di sektor makanan dan minum dan pelaku usaha ternak harus berkoordinasi mencari jalan keluar bersama pemerintah.

"Sekarang harus dihitung berapa stok gandum tanah air dan berapa alternatif negara penghasil gandum yang siap memasok dalam waktu dekat," ungkapnya.

Ada beberapa negara yang potensial untuk antisipasi dampak kebijakan India ini, seperti Amerika Serikat, Argentina dan Kanada. Menurut Bhima, kontrak impor gandum dari negara ini harus dibuat dalam jangka waktu minimal 2 tahun ke depan karena banyak negara memperebutkan stok.

"Selain itu pengusaha juga bisa segera mencari alternatif bahan baku selain gandum seperti tepung jagung, singkong hingga sorgum yang banyak ditemukan di Indonesia," pungkas Bhima. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD