Menurut Ateng, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulanan Juli 2026 dengan andil deflasi sebesar 0,26 persen dan tingkat deflasi 0,89 persen.
“Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11 persen, 0,06 persen, 0,06 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen,” kata Ateng.
Berdasarkan komponen, komponen bergejolak mengalami deflasi 1,68 persen dengan andil deflasi 0,28 persen. Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi 0,14 persen dengan andil inflasi 0,09 persen, dan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,25 persen dengan andil inflasi 0,05 persen.
Menurut wilayah, deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,37 persen, dan inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 0,38 persen. Dari 38 provinsi, tercatat 27 provinsi mengalami deflasi, dan 11 provinsi mengalami inflasi.
Seluruh provinsi tercatat mengalami inflasi tahunan, dengan inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47 persen, dan inflasi terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.
(Dhera Arizona)