Meski demikian, dia tak menampik arahan ini akan menjadi tantangan baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya sehingga seluruh pemangku kepentingan perlu terus melakukan penyesuaian agar pasokan tetap terjaga.
"Ini kondisi baru belum pernah terjadi sebelumnya, dan Insyaallah kita belajar dari kondisi ini sehingga di hari-hari di waktu-waktu yang akan datang kita lebih prima. Itu aja sebetulnya," ujarnya.
Adapun saat ini harga telur di tingkat peternak tengah mengalami penurunan. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan turunnya harga telur di tingkat peternak dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Menurutnya, pasokan telur yang melimpah di tengah melemahnya permintaan menyebabkan harga jatuh di bawah harga pokok produksi (HPP), sehingga mengancam keberlanjutan usaha peternak.
"Dan inilah yang terus kita lakukan upaya-upayanya baik jangka pendek, menengah maupun panjang untuk menjaga keseimbangan suplai dan demand ini sehingga harga di tingkat peternak itu tidak terlalu jauh dari Harga Acuan Penjualan (HAP), tetapi juga tidak lebih rendah dari HPP," kata Agung.
(NIA DEVIYANA)