Riefky menilai terjaganya angka inflasi ini tidak lepas dari bantalan subsidi energi yang tetap dipertahankan pemerintah, meskipun peta geopolitik Timur Tengah antara Iran-AS bergejolak dan mengerek harga minyak mentah dunia.
“Ketika negara lain mengalami lonjakan inflasi, Indonesia diuntungkan oleh keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi,” kata Riefky.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar otoritas tidak terlena, sebab tekanan harga yang riil belum sepenuhnya keluar ke permukaan lantaran sebagian produsen manufaktur masih menahan beban kenaikan biaya input dan belum membebankannya langsung kepada konsumen akhir.
Atas dasar pertimbangan risiko tersebut, penguatan nilai tukar harus ditempatkan sebagai skala prioritas utama bank sentral saat ini, sekalipun penaikan suku bunga acuan tersebut nantinya harus mengorbankan laju pertumbuhan kredit perbankan yang per Maret 2026 kemarin tumbuh di level 8,93 persen secara tahunan.
“Karena itu, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin dinilai layak dalam kondisi saat ini,” ujar Riefky.
(kunthi fahmar sandy)