Bahkan, guna menjaga psikologis pasar, BI tercatat telah menguras cadangan devisa dalam jumlah yang cukup masif, yakni melebihi USD10 miliar hanya dalam rentang waktu empat bulan terakhir.
Kendati amunisi valas telah digelontorkan dalam jumlah besar, efektivitas langkah tersebut dinilai mulai mengendur. Rupiah terpantau terus mengalami tren pelemahan jangka panjang sejak Agustus 2025, di mana saat itu posisinya masih berada di kisaran Rp16.100 per Dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026), mata uang RI kembali melemah 38 poin atau merosot 0,22 persen ke level Rp17.706 per Dolar AS dari sesi sebelumnya di Rp17.668 per Dolar AS.
Secara akumulatif sejak awal tahun (year-to-date/ytd), Rupiah sudah anjlok 6,21 persen terhadap Dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di kelompok negara berkembang (emerging markets), dengan posisi yang hanya sedikit lebih baik dari Lira Turki dan Rupee India.
Lebih lanjut, Riefky menggarisbawahi bahwa hulu persoalan jebloknya mata uang lokal tidak bisa lagi sepenuhnya dilemparkan pada faktor global seperti penguatan indeks Dolar AS semata.