sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jelang Pengumuman RDG, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga Jadi 5 persen Imbas Pelemahan Rupiah

Economics editor Anggie Ariesta
20/05/2026 08:42 WIB
Kejatuhan mata uang Garuda saat ini tidak boleh disepelekan karena merefleksikan eskalasi tekanan yang semakin pekat
Jelang Pengumuman RDG, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga Jadi 5 persen Imbas Pelemahan Rupiah  (FOTO:iNews Media Group)
Jelang Pengumuman RDG, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga Jadi 5 persen Imbas Pelemahan Rupiah (FOTO:iNews Media Group)

Faktor kerentanan dari dalam negeri dinilai ikut andil besar dalam memicu aksi jual investor asing.

Parlemen dan pasar menyoroti kekhawatiran terkait sustainabilitas fiskal jangka panjang. Hal ini dipicu oleh masih rendahnya rasio perpajakan (tax ratio), beban belanja program populis baru yang gemuk pada APBN, hingga potensi risiko kewajiban kontinjensi (contingent liability) yang membayangi pembentukan Danantara Indonesia.

Sentimen negatif investor juga diperparah oleh ketidakpastian arah kebijakan, indikasi menguatnya dominasi negara dalam roda ekonomi, hingga isu sensitif mengenai independensi bank sentral.

“Meski faktor eksternal tidak diragukan turut berperan dalam pelemahan rupiah sebagaimana dialami mata uang negara berkembang lainnya, faktor domestik juga memberikan kontribusi besar terhadap memburuknya nilai tukar Indonesia,” katanya.

Dari sisi stabilitas harga, LPEM FEB UI melihat rapor inflasi domestik sebenarnya masih berada dalam koridor aman. Inflasi tahunan pada April 2026 tercatat melandai ke level 2,42 persen, turun signifikan dari bulan Maret 2026 yang sempat menyentuh 3,48 persen. Angka ini masih berada di dalam rentang target BI sebesar 1,5 persen sampai 3,5 persen.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement