Menurut Khudori, pada masa Orde Baru, Bulog menjadi lembaga yang sangat kuat karena didukung perlindungan langsung dari presiden serta lingkungan politik yang terpusat. Struktur kekuasaan yang monolitik membuat koordinasi dari pusat hingga daerah berjalan dalam satu garis komando.
Fokus kebijakan saat itu lebih menitikberatkan pada efektivitas kerja dibanding transparansi dan akuntabilitas.
Menurutnya, kekuatan Bulog kala itu juga ditopang oleh penggabungan fungsi regulator dan operator dalam satu institusi, sehingga lembaga tersebut berperan sekaligus sebagai pembuat aturan, pelaksana, hingga pengawas.
"Kalau Pak Presiden mengimajinasikan Bulog sekarang dan ke depan itu kuat seperti di zaman orde baru, menurut saya situasi ekonomi politik strategisnya itu sudah sangat-sangat berubah," katanya.