sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kelembagaan Pangan Harus Dikelola Secara Modern agar Tidak Ada Konflik Kepentingan

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
18/02/2026 04:04 WIB
Setidaknya memuat beberapa opsi dalam rangka memperkuat institusi pangan, misalnya memperkuat Bapanas sebagai regulator dengan Bulog sebagai operator.
Kelembagaan Pangan Harus Dikelola Secara Modern agar Tidak Ada Konflik Kepentingan. (Foto Istimewa)
Kelembagaan Pangan Harus Dikelola Secara Modern agar Tidak Ada Konflik Kepentingan. (Foto Istimewa)

Selain itu, Bulog pada masa tersebut memiliki kepastian saluran distribusi, terutama untuk beras bersubsidi, yang memperkuat perannya dalam stabilisasi pangan nasional. Namun, setelah berubah status menjadi Perum, fungsi Bulog bergeser lebih dominan sebagai operator.

Program penyaluran beras bersubsidi tetap berjalan, tetapi orientasi lembaga menjadi kombinasi antara tugas pelayanan publik (public service obligation/PSO) dan target keuntungan.

Khudori menilai upaya membangun kembali Bulog yang kuat seperti masa lalu harus mempertimbangkan realitas baru, terutama sejak era reformasi dan otonomi daerah. Sejak awal 2000-an, pemerintah pusat tidak lagi menjadi satu-satunya pusat kekuasaan karena kewenangan telah dibagi dengan pemerintah daerah. 

"Konsen utama saat ini itu tidak tata kelola kelembagaan, tata kelola pemerintahan, tata kelola korporasi yang baik, transparansi, akuntabilitas. Kalau fungsi operator dan regulator itu jadi satu, itu menurut saya kita akan sulit," kata Khudori. 

Dia juga menekankan, desain kelembagaan pangan ke depan perlu mempertimbangkan prinsip tata kelola modern agar tidak menimbulkan konflik kepentingan, terutama bila satu lembaga memegang sekaligus kewenangan pengaturan dan pelaksanaan. Menurutnya, penguatan institusi pangan tetap penting, tetapi harus disesuaikan dengan konteks demokrasi, desentralisasi, dan standar akuntabilitas masa kini.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement