AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

Kenaikan PPN dan Potensi Inflasi Bakal Pengaruhi Industri Mamin Nasional

ECONOMICS
Anggie Ariesta
Sabtu, 30 April 2022 07:07 WIB
bahwa tekanan akibat kenaikan PPN tersebut terutama bakal lebih terasa pada perusahaan yang selama ini kurang tertib dalam menjalankan kewajiban pajaknya.
Kenaikan PPN dan Potensi Inflasi Bakal Pengaruhi Industri Mamin Nasional (foto: MNC Media)
Kenaikan PPN dan Potensi Inflasi Bakal Pengaruhi Industri Mamin Nasional (foto: MNC Media)

IDXChannel - Kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen yang diterapkan sejak beberapa waktu lalu dinilai kontra produktif terhadap kebangkitan industri makanan dan minuman (mamin) yang baru saja terjadi pasca pandemi COVID-19.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, menyatakan bahwa tekanan akibat kenaikan PPN tersebut terutama bakal lebih terasa pada perusahaan yang selama ini kurang tertib dalam menjalankan kewajiban pajaknya.

"Bagi perusahaan besar yang pajaknya tertib, mungkin tidak terlalu berat. Tapi kita harus sadar bahwa kondisi di Indonesia ini masih banyak juga perusahaan yang belum tertib, sehingga tambahan satu persen ini akan menjadi beban cukup signifikan untuk consumer goods," ujar Adhi, dalam IDX Special Dialogue Idul Fitri 1443 H, Jumat (29/4/2022).

Apalagi, menurut Adhi, timing kenaikan PPN ini dinilai kurang pas karena dalam situasi kenaikan komoditi hingga logistik. Maka itu, para pelaku usaha besar direkomendasikan GAPMMI untuk tertib pajak. Sentimen lainnya adalah inflasi yang tidak bisa dihindari. Industri makanan dan minuman berkontribusi terbesar di dalam inflasi di Indonesia.

"Menimbang hal tersebut memang bagi perusahaan yang produk pangan mayoritas single komoditi seperti minyak goreng, terigu dan sebagainya, tentunya mereka sudah menaikkan harga," katanya.

Dengan demikian, GAPMMI optimis bisa bertahan hingga lebaran dan akan dievaluasi dengan realistis apakah masih bisa bertahan atau tidak. Jika tidak bisa dibendung, GAPMMI akan melakukan negosiasi dengan stakeholder untuk penyesuaian harga.

Untuk prospek pertumbuhan industri mamin di 2022, Adhi masih cukup optimis mencapai 5%. Bahkan kalau cukup baik bisa ke 7% meskipun ada tantangan dari bottom line yang mudah tergerus. Dari sisi bahan baku, GAPMMI mengaku saat ini masih sangat berat. Karena perbaikan digitalisasi diharap bisa membantu untuk dorong di hulu.

"Karena kalau menurut UU Cipta kerja pemerintah bertanggung jawab untuk ketersediaan bahan baku di hulu dan hilir," tegas Adhi. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD