sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ketahanan Ekspor Nonmigas Topang Surplus Neraca Perdagangan RI Juli 2026

Economics editor Nia Deviyana
06/09/2026 22:30 WIB
Kinerja ekspor nonmigas yang tetap tumbuh ini turut memperkuat perdagangan Indonesia di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.
Ketahanan Ekspor Nonmigas Topang Surplus Neraca Perdagangan RI Juli 2026. Foto: iNews Media Group.
Ketahanan Ekspor Nonmigas Topang Surplus Neraca Perdagangan RI Juli 2026. Foto: iNews Media Group.

Berdasarkan negara mitra dagang, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada periode Januari–Juli 2026 dengan nilai USD12,81 miliar. Surplus nonmigas terbesar selanjutnya berasal dari India sebesar USD7,96 miliar, Filipina USD4,72 miliar, Malaysia USD3,39 miliar, dan Vietnam USD2,95 miliar. 

Sementara itu, negara yang mencatatkan defisit nonmigas terdalam adalah China sebesar USD17,67 miliar, diikuti Australia USD4,41 miliar, Prancis USD1,72 miliar, Kanada USD1,08 miliar, dan Federasi Rusia USD1,00 miliar.

Dari sisi komoditas, surplus perdagangan nonmigas periode Januari–Juli 2026 terutama berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) USD 20,96 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD16,39 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD10,32 miliar. Di sisi lain, pada Juli 2026, ketiga kelompok komoditas tersebut juga menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan total USD7,90 miliar.

Ekspor Januari—Juli Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Penopang

Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar, meningkat 2,98 persen dibandingkan Juni 2026 (MoM) dan tumbuh 6,05 persen dibandingkan Juli 2025 (YoY). Kinerja tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai USD25,43 miliar, naik 4,25 persen secara bulanan dan 6,84 persen secara tahunan.

Pada Juli 2026, pertumbuhan ekspor nonmigas secara bulanan terutama didorong oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) yang meningkat 23,05 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) sebesar 21,20 persen, serta pakaian dan aksesorinya bukan rajutan (HS 62) sebesar 20,65 persen. Sebaliknya, beberapa komoditas yang mengalami penurunan, antara lain, logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 45,07 persen, nikel dan barang daripadanya (HS 75) sebesar 38,25 persen, serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 6,21 persen.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement