Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong masih menjadi komponen terbesar dengan pangsa 71,45 persen terhadap total impor Indonesia selama Januari–Juli 2026. Selanjutnya, barang modal memiliki pangsa 19,88 persen dan barang konsumsi 8,67 persen.
Dengan demikian, bahan baku dan penolong serta barang modal secara keseluruhan menyumbang 91,33 persen dari total impor Indonesia. Dari sisi pertumbuhan, impor bahan baku/penolong meningkat 20,42 persen, barang modal tumbuh 20,00 persen, dan barang konsumsi meningkat 16,03 persen dibandingkan periode Januari–Juli 2025 (CtC).
“Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya,” kata Mendag.
Dari sisi komoditas, peningkatan impor nonmigas terbesar pada Januari–Juli 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang naik 594,46 persen; garam, belerang, batu dan semen (HS 25) naik 125,15 persen, serta bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 66,01 persen.
Dari sisi negara asal, China tetap menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari–Juli 2026 dengan pangsa 42,38 persen. Dari sisi pertumbuhannya, impor nonmigas Indonesia dari Prancis meningkat 168,36 persen, Argentina 70,57 persen, dan Federasi Rusia 70,41 persen.