AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Lockdown Dicabut, Ekonom Sebut Permintaan Meningkat Tapi Supply Kedodoran

ECONOMICS
Iqbal Dwi Purnama
Kamis, 25 November 2021 15:42 WIB
Pembatasan ketat yang terjadi di sejumlah negara seperti lockdown secara perlahan sudah dicabut kembali. Tingkat permintaan pun langsung meningkat pesat.
Lockdown Dicabut, Ekonom Sebut Permintaan Meningkat Tapi Supply Kedodoran. (Foto: MNC Media)
Lockdown Dicabut, Ekonom Sebut Permintaan Meningkat Tapi Supply Kedodoran. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pembatasan ketat yang terjadi di sejumlah negara seperti lockdown secara perlahan sudah dicabut kembali. Tingkat permintaan pun langsung meningkat pesat. Sayangnya, produsen tidak mampu mengejar hingga membuat supply jadi kedodoran.

Ekonom senior Bayu Krisnamurti, mengatakan ketika lockdown dicabut, dan kegiatan ekonomi dibuka, terjadi respon cepat dari demand side yang langsung naik. Orang mulai belanja dan mencari produk setelah tertahan selama dua tahun di berbagai sektor konsumsi. 

Namun hal itu tidak cepat direspon oleh supply side karena proses produksi/supply setelah terhenti pada masa lockdown dan resesi tidaklah secepat sisi permintaan. Terjadi semacam kemacetan supply chain, dan itu pasti tidak akan bisa kembali pada titik sebelum covid 19. 

"Karena ketika lockdown terjadi penghentian supply yang amat drastis, otomatis untuk naik kembali ke titik semula akan memakan waktu lama," ujar Bayu pada Sesi Diskusi secara virtual, Rabu (24/11/2021).

Menurutnya saat pemberlakuan lockdown pada beberapa negars menimbulkan dampak dari terhentinya pergerakan manusia yang membuat terjadi krisis supply chain, krisis logistik, krisis pergerakan/pasokan barang

"Tentu saja barang tidak akan bisa bergerak jika tidak ada manusia yang menggerakkan, yang terjadi kemudian, muncul krisis ekonomi atau resesi karena tidak ada transaksi ekonomi, pergerakan ekonomi hanya lokal, di toko-toko setempat, online dan lain-lain atau ekonomi dalam jarak pendek," sambung Bayu.

Bayu menambahkan pertumbuhan e-commerce pada saat terjadinya pandemi memang mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Namun menimbulkan masalah baru yaitu dari sisi pendidikan.

"Pertumbuhan e-commerce UMKM di Indonesia setelah kejatuhan akibat covid 19, hanya tumbuh 15-18 persen saja, selain itu khusus masalah pendidikan nasional yang terdampak covid, setuju diadakan diskusi khusus masalah tersebut, apalagi terkait bonus demografi yang terancam mubazir," tutup dia. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD