sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mirae Asset Nilai Investor Masih Selektif Meski Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen

Economics editor Shifa Nurhaliza Putri
08/08/2026 09:09 WIB
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal II-2026 menjadi sinyal positif.
Mirae Asset Nilai Investor Masih Selektif Meski Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen (Foto: Ilustrasi)
Mirae Asset Nilai Investor Masih Selektif Meski Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal II-2026 menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya mendorong investor untuk meningkatkan eksposur di pasar saham.

Mirae Asset menilai investor masih bersikap selektif karena pasar belum sepenuhnya melihat pertumbuhan ekonomi tersebut sebagai momentum yang berkelanjutan. Kualitas pertumbuhan juga menjadi perhatian, mengingat kenaikan ekonomi turut didorong stimulus fiskal, basis belanja pemerintah yang rendah, serta faktor musiman.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 memang masih solid. Namun, sejumlah faktor perlu dicermati untuk melihat keberlanjutan momentum pertumbuhan pada periode berikutnya.

Novani memperkirakan normalisasi belanja pemerintah setelah realisasi yang cukup besar pada semester I-2026, ditambah masih lemahnya kontribusi ekspor, berpotensi menekan momentum pertumbuhan pada kuartal III-2026.

Dengan kondisi tersebut, Mirae Asset memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 berpotensi melambat di bawah 5 persen YoY apabila tidak diimbangi penguatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih signifikan.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan kondisi tersebut turut tercermin dari pergerakan pasar saham domestik.

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat, reli pasar dinilai belum sepenuhnya didukung saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing.

"IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII," ujar Rully.

Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan data pertumbuhan ekonomi sebagai katalis utama investasi. Sejumlah saham berfundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI masih mengalami tekanan meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat lebih baik dari ekspektasi pasar.

"Kami melihat pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut. Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif," ujar Rully.

Rully menambahkan, penguatan nilai tukar Rupiah dalam beberapa hari terakhir juga lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi domestik. Penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dolar AS sehingga turut mendukung mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

"Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten," kata Rully.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement