Namun, struktur penerimaan negara yang lemah dan biaya utang yang tinggi membatasi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan.
Pemerintah menanggapi dengan optimistis. Mereka menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makro, dengan mencatat pertumbuhan PDB 5,39 persen pada akhir 2025, perbaikan indikator ekonomi utama, dan peningkatan penerimaan negara.
Pemerintah juga menegaskan kenaikan belanja tidak akan membahayakan anggaran, dan menyiapkan pengurangan pada program-program andalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau subsidi bahan bakar, sambil memperkuat koordinasi fiskal-moneter dan pengelolaan investasi strategis melalui Danantara.
Di sisi moneter, BI menegaskan akan terus memperkuat kombinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas makro dan finansial, berkolaborasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta meningkatkan komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Namun, menurut Suryaputra, pasar kini menunggu langkah konkret pemerintah. Investor mengharapkan pemangkasan belanja yang nyata, peningkatan kualitas belanja negara, dan rencana yang kredibel untuk meningkatkan penerimaan.