Komaidi menerangkan, pemberian harga gas murah HGBT akan memberatkan fiskal negara ketika harga gas dunia mengalami kenaikan seperti saat ini. Harga LNG dunia, yang menjadi salah satu basis HGBT, misalnya, saat ini mengalami kenaikan sekitar 60 persen akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang berlangsung.
Konflik di wilayah Timur Tengah telah menyebabkan impor LNG Kawasan Asia mengalami penurunan terdalam selama lebih dari tiga tahun terakhir akibat terganggunya rantai pasok. Perang Iran dan Israel/AS telah menyebabkan harga energi, termasuk harga LNG meningkat signifikan. Bahkan, harga acuan LNG Japan Korea Marker (JKM) tercatat mengalami peningkatan lebih dari 60 persen.
Berdasarkan data, kata dia, saat ini harga gas yang berbasis LNG untuk industri di Filipina sekitar USD28,50/MMBTU; Vietnam USD27,81/MMBTU; sementara Singapura berada pada rentang USD40–48/MMBTU.
Pasca terjadinya konflik Timur Tengah dan harga gas global meningkat, harga gas industri non-HGBT yang berbasis LNG dilakukan penyesuaian dari USD14,9/MMBTU menjadi USD21–25/MMBTU.