AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

Pemerintah Longgarkan PPKM, Pengusaha Ritel Akui Ada Angin Segar

ECONOMICS
Shelma Rachmahyanti
Jum'at, 10 September 2021 13:33 WIB
Aprindo mengungkap dengan adanya pelonggaran di masa PPKM, perlahan sudah memberikan perbaikan bagi sektor ritel. 
Pemerintah Longgarkan PPKM, Pengusaha Ritel Akui Ada Angin Segar (Dok.MNC Media)
Pemerintah Longgarkan PPKM, Pengusaha Ritel Akui Ada Angin Segar (Dok.MNC Media)

IDXChannel – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, saat ini sektor ritel masih terdampak dengan situasi pandemi. Namun dengan adanya pelonggaran di masa PPKM, perlahan sudah memberikan perbaikan bagi sektor ritel. 

“Pada saat kuartal II sebenarnya sudah mulai membaik ketika kita sudah mulai berhasil menurunkan kasus Covid-19. Tetapi karena adanya virus Delta ketika pertengah Juli, maka sampai saat ini kami masih merasakan dampaknya dengan penurunan hampir sekitar 20% dari produktivitas sebelum pandemi atau dalam kondisi PPKM Darurat,” katanya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (10/9/2021).

Roy menjelaskan, hal tersebut terjadi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat dan juga daya beli yang masih tertahan. Adapun di situasi pandemi saat ini, masyarakat masih ingin melihat situasi dan perkembangan dari kasus Covid-19.

“Adanya pembatasan mobilitas, kemudian juga daya beli yang masih tertahan di status ekonomi menengah ke bawah. Tentunya kita ketahui menengah ke atas dengan PPKM Darurat sekarang mereka masih menahan belanja, karena memang melihat situasi dan perkembangan terlebih dahulu,” jelas dia.

Namun, ia tidak menampik dengan adanya berbagai pelonggaran yang sudah mulai dilakukan, perlahan sudah memberikan perbaikan bagi sektor ritel. Walau, kondisi belum sama seperti pada saat PPKM Mikro diberlakukan.

“Perbaikan itu karena saat ini sudah ada yang namanya QR code PeduliLindungi. Ketika diberlakukan dan masyarakat sudah mulai mengunjungi pusat belanja maupun juga ritel. Tapi kalau dihitung dari jumlah yang datang, tentunya belum sama seperti keadaan PPKM Mikro ketika aplikasi PeduliLindungi belum diterapkan,” ucap Roy. 

Diinformasikan sebelumnya, sektor ritel menjadi salah satu sektor usaha yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Bahkan dari tahun 2020 hingga pertengahan 2021, sudah ada 1.500 toko ritel yang harus tutup karena tidak kuat menanggung beban biaya sewa dan operasional toko.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD