“Sekarang matahari sudah digabung dengan BESS. Energi siang disimpan, lalu dipakai malam. Tapi pertanyaannya, berapa lama penyimpanannya? Empat jam, atau lebih? Itu menentukan kapasitas yang harus dibangun,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan integrasi antara PLTS dan BESS menjadi salah satu aspek paling menantang, karena berkaitan langsung dengan investasi, teknologi, serta perencanaan sistem yang matang.
Selain aspek teknologi, tantangan lain juga muncul dari sisi infrastruktur dan lokasi pembangunan. Di wilayah padat seperti Jawa, penggunaan lahan untuk PLTS skala besar dinilai kurang efisien karena tingginya harga tanah. Sebagai solusi, pemanfaatan atap bangunan (rooftop solar) dinilai lebih relevan.
Sementara itu, di luar Jawa, pembangunan PLTS berbasis lahan (ground-mounted) masih memiliki peluang lebih besar, meski tetap memerlukan kesiapan jaringan distribusi dan transmisi listrik.
“Kalau di Jawa, tanah mahal, lebih baik rooftop. Di luar Jawa masih bisa ground, ada 10 mega, 20 mega, dan seterusnya,” pungkasnya. (Wahyu Dwi Anggoro)