Carmelita menilai tanpa adanya kepastian permintaan dan dukungan pembiayaan, pelaku usaha akan cenderung menunda pembelian kapal baru. Padahal, pembangunan kapal pendukung offshore membutuhkan investasi besar serta waktu yang tidak singkat.
Sehingga, kata dia, kondisi tersebut justru bisa menghambat pencapaian target pemerintah meningkatkan produksi minyak nasional menjadi 1 juta barel per hari dan gas bumi 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030.
Dia menerangkan, keberhasilan target produksi migas tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan kegiatan eksplorasi dan produksi, tetapi juga bergantung pada kesiapan armada kapal yang menopang seluruh operasi di wilayah lepas pantai.
"Program eksplorasi dan produksi pada kegiatan lepas pantai tetap membutuhkan kapal yang siap bekerja, baik untuk kegiatan pengeboran, well intervention, hingga logistik laut. Karena itu, kesiapan kapal pendukung offshore nasional berperan penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian target produksi migas nasional," ujarnya.