Selain sektor energi, Pahala menyebut terdapat tiga sektor utama lain yang berpotensi menjadi motor penggerak peningkatan perdagangan antara Indonesia dan EAEU. Pertama adalah sektor komoditas pangan, seperti minyak sawit mentah (CPO), gandum, serta pupuk, khususnya potash.
"Ini adalah sektor-sektor yang dengan adanya penurunan tarif tersebut kita harapkan akan bisa meningkatkan adanya perdagangan," ujar dia.
Kedua, sektor energi termasuk hilirisasi mineral seperti nikel juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam kerja sama ini.
Adapun sektor ketiga adalah industri padat karya, meliputi tekstil, garmen, serta industri manufaktur seperti mesin, peralatan, dan elektronik yang saat ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia.
(DESI ANGRIANI)