AALI
10425
ABBA
424
ABDA
0
ABMM
1500
ACES
1405
ACST
282
ACST-R
0
ADES
2550
ADHI
1185
ADMF
7975
ADMG
228
ADRO
1860
AGAR
346
AGII
1515
AGRO
2010
AGRO-R
0
AGRS
204
AHAP
64
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
240
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
635
AKRA
4280
AKSI
430
ALDO
705
ALKA
234
ALMI
234
ALTO
308
Market Watch
Last updated : 2021/10/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
517.26
-0.05%
-0.28
IHSG
6633.34
0.11%
+7.22
LQ45
972.21
-0.05%
-0.45
HSI
25330.96
1.48%
+368.37
N225
29068.63
1.81%
+517.70
NYSE
16744.29
1.4%
+231.13
Kurs
HKD/IDR 1,817
USD/IDR 14,150
Emas
812,528 / gram

Petugas Kimia Farma Ketahuan Pakai Rapid Antigen Bekas, Epidemiolog: Ini Sangat Berbahaya

ECONOMICS
Siska Permata Sari/iNews
Rabu, 28 April 2021 13:17 WIB
Penggunaan Rapid Antigen bekas tidak dianjurkan meski dalam keterbatasan alat.
Penggunaan Rapid Antigen bekas tidak dianjurkan meski dalam keterbatasan alat. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Aparat kepolisian baru saja mengamankan empat orang petugas Kimia Farma yang melakukan rapid tes antigen Covid-19. Mereka diamankan karena diduga menggunakan rapid antigen bekas yang didaur ulang sehingga membuat hasil pemeriksaan covid terdeteksi positif.

Berdasarkan keterangan Dirkrimsus Polda Sumatera Utara, Selasa (27/4/2021) pukul 15.45 WIB, telah mengamankan  empat orang petugas Laboratorium Rapid Antigen Kimia Farma Lantai M, Bandara Kualanamu, Medan.

Keempat petugas tersebut kemudian diamankan beserta barang bukti seperti uang dan ratusan alat rapid test bekas yang sudah di cuci bersih dan telah di masukkan ke dalam kemasan.

Menanggapi fenomena ini, Epidemiolog dari Griffith University Australia dr Dicky Budiman mengaku sangat prihatin. Sebab, menggunakan alat tes rapid antigen yang didaur ulang dapat berpontensi menimbulkan hasil keliru.

“Ini memprihatikan dan sangat berbahaya, ya. Karena bisa mengurangi akurasinya secara drastis dan menimbulkan false negative atau  false positive, dan ini menghasilkan invalid result,” kata dr Dicky Budiman saat dihubungi MNC Portal, Rabu (28/4/2021).

Dia mengatakan, sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan rapid antigen daur ulang, apapun kondisinya. “Sejauh ini tidak ada dan tidak boleh ada tes Covid ini yang sifatnya daur ulang. Tidak pernah ada anjuran seperti itu meski dalam keterbatasan alat,” ujarnya.

Penggunaan Rapid Tes bekas dihawatirkan berdampak pada peningkatan penularan. “Hal yang membahayakan adalah adanya potensi penularan dari penggunaan daur ulang ini. Penularan pada orang lain yang misalnya tadinya tidak membawa virus tapi penggunaan alat tes daur ulang ini masih ada virusnya, walau dibersihkan dulu, nah ini yang akan berpotensi mencelakakan orang lain,” jelas dia.

Dia juga menuturkan bahwa hal ini kemungkinan juga dapat menurunkan kepercayaan publik. “Akan berpengaruh negatif juga karena ini akan menurunkan trust publik, ada kecurigaan. Ini harus direspon dengan segera,” kata dr Dicky. “Ini harus ada klarifikasi kemudian harus ada audit,” tambahnya.

Dia juga menekankan pentingnya faktor testing dalam mengendalikan pandemi Covid-19. “Faktor testing ini sangat penting, tidak boleh main-main, tidak boleh ambil risiko. Dan hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bisa jadi ada kongkalingkong dan ini membuat ancaman bagi kesehatan masyarakat. Buat saya ini permasalahan serius, ya,” ujarnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD