Selain kendala di Rokan, PHE juga menghadapi hambatan produksi di lapangan domestik yang dikelola bersama ExxonMobil, khususnya terkait keterbatasan fasilitas gas di Banyu Urip. Sehingga, peningkatan produksi gas di wilayah kerja tersebut belum dapat optimal karena kapasitas fasilitas yang terbatas.
“Isu utama yang kita alami di kuartal I-2026 ini sehingga hingga saat ini produksi kami hanya mencapai untuk domestik 367 ribu barrel oil per day,” katanya.
Di sisi internasional, kondisi geopolitik Timur Tengah turut memukul produksi migas PHE. Awang menyebut perang antara AS, Israel, dan Iran berdampak langsung terhadap operasi lapangan West Qurna di Irak.
Dia mengakui beberapa hari setelah konflik memanas, pemerintah Irak meminta agar lapangan tersebut dihentikan sementara (shut-in). Akibatnya, PHE kehilangan produksi sekitar 100 ribu BOPD.