Purbaya juga menilai situasi global mulai menunjukkan perbaikan, khususnya dari sisi kebijakan suku bunga. Dengan arah suku bunga global yang cenderung lebih akomodatif serta posisi Indonesia yang semakin kuat dalam rantai pasok global, ia optimistis momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga.
Namun demikian, Purbaya mengingatkan bahwa ruang akselerasi pertumbuhan global pada 2026 masih terbatas meski tetap berada dalam fase pertumbuhan positif. Ketidakpastian global masih dipicu oleh dinamika geopolitik, persaingan sumber daya strategis, perbedaan kebijakan moneter antarnegara, keterbatasan fiskal, risiko perubahan iklim, serta disrupsi dan peluang dari adopsi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.
Namun, ia mengungkapkan sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global yang cenderung moderat. World Bank, misalnya, memperkirakan pertumbuhan global naik tipis dari 2,3 persen persen pada 2025 menjadi 2,4 persen pada 2026.
Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global dari 3,2 persen menjadi 3,1 persen. Proyeksi serupa juga disampaikan OECD dan Bloomberg.
"Arah kebijakan suku bunga global menuju fase yang lebih akomodatif, memberikan ruang untuk ekspansi aktivitas ekonomi global dan aliran dana portofolio ke emerging market termasuk ke Indonesia," ujarnya.