sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sejumlah Strategi Bapanas Jaga Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026

Economics editor Tangguh Yudha
25/01/2026 18:50 WIB
Bapanas mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga ketersediaan stok dan stabilitas harga pangan menjelang Ramadan 2026.
Sejumlah Strategi Bapanas Jaga Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026. (Foto Istimewa)
Sejumlah Strategi Bapanas Jaga Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadan 2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga ketersediaan stok dan stabilitas harga pangan menjelang Ramadan 2026.

Menurutnya, langkah stabilisasi penting dilakukan mengingat pergerakan harga komoditas pangan kerap menjadi faktor pengungkit inflasi, terutama dalam momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.

Amran menegaskan, stabilisasi harga pangan merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, harga pangan akan tetap dijaga agar tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak sekarang hingga Ramadan dan Idulfitri selesai.

"Ini perintah Bapak Presiden. Stabilkan harga. Titik. Siap Bapak Presiden. (Itu) sebelum berangkat ke luar negeri. Kesimpulannya, kita menjaga Harga Eceran Tertinggi pangan, sekarang sampai Ramadan sampai selesai," ujarnya dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (25/1/2026).

Amran menuturkan, tidak ada toleransi bagi pelaku usaha yang menjual komoditas pangan di atas HET. Pemerintah, katanya, akan memperketat pengawasan di seluruh rantai pasok dan melibatkan Satgas Pangan Polri untuk penindakan.

"Tidak ada boleh pengusaha seluruh Indonesia menjual di atas HET. Kalau ada menjual di atas HET, Satgas Pangan Polri akan bekerja, bila perlu menindaknya. Tidak ada lagi kesempatan, karena sudah lama kita imbau-imbau. (Jadi) tidak boleh menjual di atas HET," kata dia.

Selain pengawasan harga, Amran menyatakan pihaknya juga akan menggencarkan program intervensi pasar seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tingkat konsumen. Program ini bertujuan menekan inflasi yang kerap meningkat pada awal Ramadan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum bulanan pada awal Ramadan 2025 mencapai 1,65 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Meski demikian, inflasi pangan (volatile food) selama Ramadan dan Idulfitri dalam lima tahun terakhir masih berada di bawah batas kewajaran, yakni di bawah 3 persen secara bulanan.

Pada Ramadan 2022, inflasi pangan tercatat 2,30 persen dan kembali mengalami inflasi 0,94 persen pada Mei 2022. Sementara pada 2023, inflasi pangan selama Ramadan dan Idulfitri relatif rendah di angka 0,29 persen.

Pola berbeda terjadi pada 2024, ketika inflasi pangan saat Ramadan mencapai 2,16 persen, namun berbalik menjadi deflasi 0,31 persen pada April 2024. Pada Ramadan 2025, inflasi pangan tercatat 1,96 persen dan kembali deflasi tipis 0,04 persen pada bulan berikutnya.

Untuk menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, inflasi pangan terakhir tercatat sebesar 2,74 persen pada Desember 2025. Pemerintah pun menyiapkan dua langkah utama, yakni memperkuat intervensi pangan dan memperketat pengawasan harga.

Amran menegaskan bahwa kebijakan menjaga HET dan Harga Acuan Pembelian (HAP) maupun Harga Acuan Penjualan (HAP) didukung oleh kondisi stok pangan nasional yang sangat kuat.

"HET juga kita jaga. Kenapa? Alhamdulillah stok kita, pangan strategis, beras, stok kita, hari ini 3,3 juta ton. Ini tertinggi stok akhir tahun sepanjang sejarah. Minyak goreng juga tersedia. Jadi ini juga tidak ada alasan untuk naik," kata Amran.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement