AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Selama Melanda, PNM Alami Lonjakan Nasabah hingga Rekrut Ribuan Pegawai

ECONOMICS
Agung bakti sarasa
Jum'at, 11 Juni 2021 07:12 WIB
PNM yang bergerak di bidang jasa keuangan itu mencatat lonjakan nasabah yang cukup signifikan, bahkan mampu merekrut ribuan pegawai
Selama Melanda, PNM Alami Lonjakan Nasabah hingga Rekrut Ribuan Pegawai. (Foto: MNC Media)
Selama Melanda, PNM Alami Lonjakan Nasabah hingga Rekrut Ribuan Pegawai. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mencatat pertumbuhan positif selama masa pandemi COVID-19. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa keuangan itu mencatat lonjakan nasabah yang cukup signifikan, bahkan mampu merekrut ribuan pegawai selama pandemi berlangsung.

Sekretaris Perusahaan PT PNM (Persero), Errinto Pardede, mengatakan, PNM memiliki tugas khusus dalam upaya pemberdayaan dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Diakui Pardede, pandemi COVID-19 membuat nasabah PNM melonjak signifikan menyusul banyaknya pelaku UMKM yang terdampak pandemi dan membutuhkan bantuan modal usaha. 

Dia menyebutkan, sebelum pandemi melanda Indonesia, nasabah PNM tercatat sekitar 6 juta nasabah. Namun, dalam kurun waktu lebih dari satu tahun terakhir, nasabah PNM melonjak signifikan hingga 9,5 juta nasabah. 

"Di awal April 2020, nasabah PNM awalnya sekitar 6 juta. Kini, jumlahnya naik signifikan hingga 9,5 juta nasabah," ungkap Pardede dalam kegiatan diskusi Hari Jadi ke-22 PNM yang digelar di kawasan Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (10/5/2021). 

Lonjakan nasabah pun terjadi di Provinsi Jawa Barat. Selama pandemi, jumlah nasabah PNM di Jabar naik signifikan dari yang awalnya 1,4 juta nasabah menjadi hampir 2 juta nasabah dimana mayoritas nasabah berada di wilayah Bogor, Garut, dan Tasikmalaya. 

"Di Jabar, jumlah nasabah PNM saat ini mencapai sekitar 1.980.000 nasabah. Dari 625 kecamatan di Jabar, PNM sudah hadir di 604 kecamatan," terangnya. 

Lonjakan nasabah yang signifikan tersebut, lanjut Pardede, membuat pihaknya harus merekrut ribuan pegawai baru. Dia menyebutkan, selama pandemi berlangsung, sebanyak 12.000 pegawai baru direkrut untuk mendukung pelayanan PNM kepada masyarakat, khususnya para pelaku UMKM. 

"Sebelum pandemi, tim PNM itu hanya 30.000-an, tapi saat ini jumlahnya lebih dari 50.000. Selama pandemi, kita rekrut pegawai hingga 12.000 orang," sebut Pardede. 

Lebih lanjut Pardede mengatakan, sesuai misinya, PNM berupaya memberikan bantuan modal usaha bagi para pelaku UMKM melalui pembiayaan langsung bagi perorangan maupun badan usaha melalui program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM). 

Selain ULaMM, PNM pun menyediakan akses permodalan ultra mikro, khususnya bagi kaum ibu pra sejahtera melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).

"Jika ULaMM memberikan pembiayaan untuk UMKM antara Rp20 juta hingga Rp150 juta, dalam program Mekaar, ibu-ibu prasejahtera mendapat pembiayaan mulai dari Rp2 juta hingga Rp5 juta," terangnya. 

Di luar layanan pembiayaan tersebut, PNM juga memberikan pendampingan usaha mulai dari jasa konsultasi hingga dukungan pengelolaan keuangan dan akses pasar bagi nasabah.

Khusus untuk program Mekaar, tambah Pardede, PNM menerapkan sistem kelompok tanggung renteng. Pasalnya, nasabah program Mekaar umumnya memiliki keterbatasan dalam mengakses lembaga keuangan, mulai dari kendala formalitas, skala usaha, hingga ketiadaan agunan. 

"PNM mengutamakan pemberian modal kepada kaum ibu dengan alasan kaum ibu lebih cermat dan terampil dalam mengelola keuangan dan bisnis. Mereka pun mendapat bimbingan dan pelatihan dari tim PNM dalam mengembangkan usahanya dan akhirnya bisa lepas dari rantai kemiskinan," tandasnya. 

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis Mekaar, Endang Nurjani, menambahkan, layanan pembiayaan ultramikro ini merupakan antitesis layanan perbankan yang mewajibkan calon nasabahnya memiliki agunan dan kapasitas. Melalui program Mekaar, kata Endang, kaum ibu cukup melampirkan KTP dan Kartu Keluarga (KK) untuk mendapatkan layanan pembiayaan. 

"Di lingkungan kita kan banyak ibu-ibu, mereka punya banyak waktu luang, hanya ngobrol, makanya terbersit bagaimana membuat mereka memiliki usaha yang produktif," ujarnya.

Terlebih, kata Endang, masih banyak masyarakat terjebak oleh pinjaman rentenir hingga pinjaman online tak berizin. Padahal, masyarakat membutuhkan bantuan pembiayaan demi keberlangsungan usahanya.

"Atas dasar itu kita hadir di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya pembiayaan, tapi juga pendampingan. Pembiayaan yang kita berikan juga bukan hanya untuk mereka memiliki usaha, tapi juga yang belum usaha, bahkan gagal dalam usaha," katanya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD