AALI
10125
ABBA
232
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
272
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
1165
ADMF
0
ADMG
167
ADRO
1195
AGAR
410
AGII
1100
AGRO
900
AGRO-R
0
AGRS
595
AHAP
71
AIMS
480
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3220
AKSI
0
ALDO
890
ALKA
238
ALMI
240
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/05/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
28013.81
0%
0.00
N225
28608.59
0%
0.00
NYSE
16355.62
0%
0.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,195
Emas
838,803 / gram

Sepanjang Ramadhan, Restoran di Jakarta dan Bandung Bisa Buka Lebih Malam

ECONOMICS
Arif Budianto/Kontributor
Jum'at, 09 April 2021 23:46 WIB
Dalam PPKM Mikro, restoran atau rumah makan kapasitas maksimalnya hanya 50%.
Dalam PPKM Mikro, restoran atau rumah makan kapasitas maksimalnya hanya 50%. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pandemi Covid-19 membuat pemerintah daerah membatasai jam operasional restoran melalui aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Meskipun demikian, restoran di Jakarta dan Bandung bisa buka lebih malam di sepanjang Ramadhan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, aturan operasional selama Bulan Ramadan nanti sejauh ini tetap mengacu terhadap regulasi selama PPKM Mikro. Dalam PPKM Mikro, restoran atau rumah makan kapasitas maksimalnya hanya 50%.

"Apa bedanya buka puasa dgn makan malam ? Oke. Jadi prinsipnya adalah 50 persen di dalam kegiatan apapun apakah makan pagi apakah makan malam apakah makan sore apakah disebut iftar apakah disebut buka apakah disebut sahur. Prinsipnya adalah 50 persen kapasitas. Karena pada saat bulan ramadan makan malamnya di menit yang hampir sama," kata Anies, Jumat (9/4/2021).

Namun menurutnya, hanya di bulan Ramadan semua orang tahu waktu magrib.Maka pengelola resto pengelola tempat makan harus secara disiplin mengatur posisi duduk dan kapasitas maksimal. 
 
"Karena sesungguhnya kegiatan makan malam atau kegiatan buka puasa sama-sama membuka masker sama-sama harus melakukan aktivitas yang punya potensi penularan. Karena itulah kapasitas 50 persen harus dijaga dan jarak harus dipastikan aman. Jadi itu prinsip utamanya," tambahnya.

Mantan Mendikbud itu menambahkan, bahwa nantinya akan ada aturan khusus bagi rumah makan yang beroperasi selama Bulan Ramadan. Bahkan, rencananya Anies akan memperpanjang jam buka tempat makan.

"Adapun jam operasi nanti akan ada ketentuan khusus mengenai jam operasi nanti akan diumumkan terkait jam operasi yang berbeda dengan hari-hari luar bulan ramadan. Karena pada Bulan Ramadan aktivitasnya lebih banyak malam hari. Kalau selama ini harus tutup pukul 9 malam , di bulan Ramadan nanti tutupnya bisa lebih malam dan bisa buka lebih pagi karena untuk melayani yang sahur," terangnya.

Adapun pengumuman lebih lanjut akan disampaikan oleh dinas terkait. "Nanti pengumuman detailnya oleh dinas disampaikan perincian jam nya. Tapi prinsipnya adalah seperti itu dan kegiatan buka puasa bersama di masjid harap tidak dilaksanakan. Buka puasa di rumah buka puasa bersama keluarga saja," tutup Anies. 


Sementara itu, Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Oded M. Danial menyatakan khusus selama Ramadan ada penyesuaian jam operasional untuk tempat usaha jasa kuliner, bisa beroperasi sampai pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, tempat kuliner hanya diperkenankan beroperasi sampai 21.00 WIB. 

“Relaksasi perpanjangan waktu operasional hingga pukul 23.00 WIB untuk kegiatan usaha kuliner yaitu restoran, cafe, atau rumah makan pada bulan Ramadan,” ucap Oded usai rapat terbatas secara daring dari Balai Kota Bandung, Jumat, (9/4/2021).

Untuk tempat usaha lainnya di luar kuliner, tetap diberlakukan aturan seperti sebelumnya. Sementara khusus selama bulan Ramadan ini tempat hiburan tutup total. “Kalau ada yang bandel tetap buka, kita siapkan sanksi,” tegasnya.

Oded mengaku sudah menugaskan Satgas Penangnan Covid-19 baik tingkat kota maupun sampai ke level kewilayahan untuk ketat mengawasi sejumlah titik yang berpotensi terjadi kerumunan. Khususnya, yang biasa menjadi lokasi menjajakan makanan untuk berbuka puasa.

Sebab, Oded menilai penjaja makanan untuk berbuka puasa menjadi bagian dari upaya untuk memulihkan ekonomi masyarakat. Hanya saja, masyarakat harus tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat. “Kita perbolehkan. Tapi akan kita monitor ketat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Oded menyatakan perihal kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan di Kota Bandung mengikuti panduan dari pemerintah pusat. Yakni sesuai dengan Surat Edaran (SE) Kementerian Agama Nomor 3 Tahun 2021 terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 Hijriah/2021 Masehi.

Oded meminta masyarakat untuk menahan diri tidak menyelenggarakan sejumlah rutinitas yang berpotensi menciptakan kerumunan. Semisal kegiatan "ngabuburit" dan kegiatan jalan bersama setelah subuh yang kerap melibatkan banyak masyarakat. “Sahur on the road tidak ada dulu lah. Di rumah saja untuk menghindari kerumunan,” katanya.

Oded juga meminta agar setiap Dewan Kemakmuran Masjid untuk membebtuk Satgas Penanganan Covid-19. Hal itu agar pelaksanaan ibadah selama Ramadan bisa berjalan lebih khusyu."Dan jika terjadi sesuatu hal yang berkaitan dengan Covid-19 bisa bergerak lebih cepat. Setidaknya bisa langsung berkoordinasi dengan Puskesmas," tutur Oded. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD