AALI
8525
ABBA
580
ABDA
0
ABMM
1480
ACES
1350
ACST
250
ACST-R
0
ADES
2940
ADHI
880
ADMF
7675
ADMG
220
ADRO
1335
AGAR
370
AGII
1300
AGRO
2390
AGRO-R
0
AGRS
254
AHAP
63
AIMS
344
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3880
AKSI
430
ALDO
720
ALKA
238
ALMI
242
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
459.02
0.03%
+0.16
IHSG
6133.25
0.38%
+23.30
LQ45
862.44
-0.03%
-0.26
HSI
24920.76
1.03%
+252.91
N225
30500.05
0.58%
+176.71
NYSE
16576.77
-0.3%
-50.11
Kurs
HKD/IDR 1,825
USD/IDR 14,220
Emas
805,205 / gram

Sri Mulyani Sebut Covid dan Inflasi AS Jadi Penghambat Ekonomi

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Selasa, 22 Juni 2021 18:13 WIB
Pemerintah tengah berupaya meredam lonjakan covid-19 di berbagai daerah dengan berbagai kebijakan pengetatan protokol kesehatan dan vaksinasi.
Sri Mulyani Sebut Covid dan Inflasi AS Jadi Penghambat Ekonomi (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah tengah berupaya meredam lonjakan covid-19 di berbagai daerah dengan berbagai kebijakan pengetatan protokol kesehatan dan vaksinasi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan jika dilihat dari sisi penanganan covid, kenaikan dari jumlah vaksin dan vaksinasi secara global juga membangun optimisme. Pertemuan G7 minggu lalu, para pemimpin negara menyampaikan akan memberikan satu milyar vaksin kepada kepada negara-negara lain. 

Ini tentu memberikan dampak positif karena masih ada negara yang memiliki akses terbatas akan vaksin. Dengan begitu akan memberikan harapan bagi pemulihan ekonomi global yang berkelanjutan.

“Downside risk dari covid adalah dari beberapa negara masih terjadi apa yang disebut second wave atau third wave dan munculnya varian baru ini yang masih harus memerlukan suatu penerapan protokol kesehatan, sambil terus mengakselerasi vaksinasi karena memang varian baru maupun kecepatan vaksinasi ini semuanya saling kejar-kejaran,” ungkapMenteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (22/6/2021).

Faktor-faktor yang membuat optimis seperti pemulihan ekonomi global yang berlanjut yang kemudian menimbulkan permintaan terhadap barang barang dan jasa dan berimbas pada perekonomian kita cukup positif. 

“Namun pada saat yang sama downside dari perekonomian global adalah inflasi dari negara Amerika yang kemudian direspons dengan kemungkinan adanya pengetatan moneter yang lebih dini dari yang rencana awal. Ini menimbulkan antisipasi awal bagi kita terutama untuk tahun 2022,” jelasnya.

Dari sisi pendapatan APBN, pendapatan negara mengalami rebound yang sangat luar biasa. Ini menggambarkan satu sisi adanya dampak komoditas maupun dampak pada ekspor yang melonjak. 
Namun juga di dalam negeri kita lihat geliat ekonomi di sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, jasa keuangan dan juga bahkan kegiatan yang lainnya yang sudah mulai menunjukkan suatu hal yang positif.

“Namun downside-nya adalah belanja negara kita yang meningkat dan mendukung pemulihan ekonomi masih perlu diperbaiki juga dari sisi kualitasnya. Jadi ini kualitas dari belanja dan eksekusi yang sering ditekankan oleh Bapak Presiden menjadi sangat penting. Tentu stimulus fiskal kita desain sehingga pemulihan ekonomi benar-benar bisa berjalan dan terus bisa makin diperkuat,” tandasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD