AALI
9700
ABBA
286
ABDA
7375
ABMM
1380
ACES
1340
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
194
ADRO
2230
AGAR
344
AGII
1435
AGRO
1345
AGRO-R
0
AGRS
167
AHAP
69
AIMS
372
AIMS-W
0
AISA
179
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
785
AKSI
845
ALDO
1485
ALKA
346
ALMI
278
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2022/01/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.22
-0.66%
-3.34
IHSG
6591.98
-0.33%
-22.08
LQ45
938.61
-0.66%
-6.20
HSI
24127.85
0.06%
+15.07
N225
27467.23
-2.8%
-790.02
NYSE
0.00
-100%
-17219.06
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,369
Emas
837,003 / gram

Sri Mulyani Ungkap Bahayanya Inflasi AS yang Melonjak Tinggi

ECONOMICS
Michelle Natalia
Kamis, 25 November 2021 14:05 WIB
Inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat melonjak tinggi tembus 6,2 persen, hal ini menumbulkan kekhawatiran bagi banyak negara terutama Indonesia.
Sri Mulyani Ungkap Bahayanya Inflasi AS yang Melonjak Tinggi (FOTO: MNC Media)
Sri Mulyani Ungkap Bahayanya Inflasi AS yang Melonjak Tinggi (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat melonjak tinggi tembus 6,2 persen, hal ini menumbulkan kekhawatiran bagi banyak negara terutama Indonesia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pun tengah memperhatikan situasi di AS yang bisa saja mempengaruhi arah kebijakan moneter dari Bank Sentral Federal Reserve (The Fed) ke depan, juga komplikasi terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia. 

"Kenaikan suku bunga di AS menimbulkan komplikasi di negara berkembang, outflow yang menimbulkan pelemahan nilai tukar rupiah dan menimbulkan dampak ekonomi domestik," ujar Sri dalam acara Squawk Box CNBC secara virtual pada Kamis (25/11/2021)

Dia mengatakan, baru semalam Departemen Perdagangan AS melaporkan inflasi yang dilihat dari personal consumption expenditure (PCE) melesat 5% year-on-year (yoy) di bulan Oktober. Angka ini merupakan angka tertinggi sejak November 1990.

Sesuai prediksi Reuters, sementara inflasi inti PCE yang tidak memasukkan item energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 4,1% yoy, lebih tinggi dari bulan September 3,6% yoy. Inflasi yang menjadi acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter ini berada di level tertinggi sejak Januari 1991.

Sri menyebutkan bahwa kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat juga terlihat dari rilis notula rapat kebijakan moneter bulan ini. Dari rilis tersebut, terlihat bahwa para anggota dewan siap menaikkan suku bunga lebih awal jika inflasi terus meningkat.

"Indonesia masih cukup beruntung, perekonomian kita membaik akibat lonjakan harga komoditas internasional, terlihat dari neraca perdagangan dan pembayaran yang surplus. Current account surplus 1,5%, ini jauh lebih baik dibanding taper tantrum," jelas Sri.

Ditambah lagi kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) juga semakin kecil sehingga mendorong ketahanan ekonomi yang lebih baik. Defisit APBN juga semakin mengecil seiring dengan pemulihan ekonomi yang mendorong penerimaan negara.

"Meski demikian, kami dengan BI akan koordinasi mengawal perekonomian di dalam menghadapi dinamika global yang tidak bisa kita kontrol, kebijakan di AS, Eropa, dan menimbulkan spill over besar," tutup Sri Mulyani. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD