AALI
9425
ABBA
276
ABDA
0
ABMM
2440
ACES
740
ACST
190
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
790
ADMF
8175
ADMG
174
ADRO
3190
AGAR
314
AGII
2300
AGRO
830
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
95
AIMS
280
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1575
AKRA
1190
AKSI
274
ALDO
755
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
538.68
-0.69%
-3.72
IHSG
7129.28
-0.43%
-31.11
LQ45
1012.04
-0.62%
-6.29
HSI
20175.62
0.46%
+93.19
N225
28546.98
2.62%
+727.65
NYSE
15602.93
0.32%
+50.23
Kurs
HKD/IDR 205
USD/IDR 14,795
Emas
850,422 / gram

Sri Mulyani Ungkap Biang Kerok AS dan Eropa Dihantam Tsunami Inflasi

ECONOMICS
Michelle Natalia
Jum'at, 05 Agustus 2022 19:30 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyebut saat ini terjadi tsunami inflasi yang menghantam Amerika Serikat (AS) dan banyak negara Eropa.
Sri Mulyani Ungkap Biang Kerok AS dan Eropa Dihantam Tsunami Inflasi (FOTO: MNC Media)
Sri Mulyani Ungkap Biang Kerok AS dan Eropa Dihantam Tsunami Inflasi (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut saat ini terjadi tsunami inflasi yang menghantam Amerika Serikat (AS) dan banyak negara Eropa.

"Jika dilihat fenomena sekarang, inflasi yang begitu besar terjadi di AS hingga Eropa. Penyebabnya apa? Pertama adalah supply chain disruption karena recovery sisi demand jauh lebih cepat daripada sisi supply, sisi supply-nya tertinggal," ujar Sri dalam peluncuran buku 'Keeping Indonesia Safe from COVID-19 Pandemic' secara virtual di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Tak hanya itu saja, konflik geopolitik berupa perang Rusia-Ukraina juga turut memperparah kondisi inflasi yang terjadi saat ini. 

"Kombinasi supply chain disruption dengan konflik di dua negara produsen pangan dan energi besar, tentunya ini menyebabkan lonjakan harga dua komoditas tersebut," ungkap Sri. 

Faktor tambahan lainnya adalah kebijakan fiskal dan moneter yang terlalu ekstrem diambil oleh Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dan juga bank sentral di Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi usai pandemi. 

"Pengetatan moneter baik itu penurunan suku bunga sampai negatif kalau di Eropa, sementara di Amerika 0%. Bukan hanya itu, tapi mencetak uang dengan membeli bonds sampai dari korporat pun dibeli, ini makin memicu laju inflasi di tengah ketidakpastian global," ungkap Sri.

Karena adanya faktor-faktor ini, justru diprediksi akan terjadi perlambatan pemulihan ekonomi, diperparah dengan imbas perang Rusia-Ukraina serta pandemi COVID-19 yang masih belum selesai. (RRD)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD