AALI
8850
ABBA
224
ABDA
6025
ABMM
4380
ACES
650
ACST
196
ACST-R
0
ADES
7275
ADHI
765
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3860
AGAR
316
AGII
2500
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
105
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
144
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1600
AKRA
1305
AKSI
320
ALDO
695
ALKA
290
ALMI
390
ALTO
175
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.43
-0.46%
-2.48
IHSG
7127.50
-0.71%
-51.08
LQ45
1020.20
-0.53%
-5.44
HSI
17855.14
-0.44%
-78.13
N225
26431.55
-2.66%
-722.28
NYSE
0.00
-100%
-14116.59
Kurs
HKD/IDR 1,914
USD/IDR 15,125
Emas
799,103 / gram

Tak Hanya Resesi, Sri Lanka Mulai Dibayangi Krisis Pangan

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Jum'at, 17 Juni 2022 13:18 WIB
Resesi ekonomi sudah menghajar habis-habisan hampir setiap sudut perekonomian warga Sri Lanka. Kini negara itu mulai dibayangi oleh krisis pangan.
Tak Hanya Resesi, Sri Lanka Mulai Dibayangi Krisis Pangan. (Foto: MNC Media)
Tak Hanya Resesi, Sri Lanka Mulai Dibayangi Krisis Pangan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Resesi ekonomi sudah menghajar habis-habisan hampir setiap sudut perekonomian warga Sri Lanka. Bahkan, kenaikan harga yang begitu tinggi juga memukul para petani dan membuat negara tersebut mulai dibayangi krisis pangan.

Seperti yang diakui oleh petani lokal, R. Daranagama (70 tahun), yang mengaku sudah sangat terpukul sejak resesi menerjang negerinya. Gara-gara itu, dia semakin jarang menginjakkan kaki ke tanah sawahnya seluas empat hektare.

Daranagama mengaku sulit mendapatkan akses untuk membeli pupuk, alhasil dia dan rekan-rekannya sesama petani sudah memprediksi hasil panen akan merosot tajam. Jika itu terjadi, maka nasib Sri Lanka sudah semakin parah.

“Saya tidak tahu akan panen apa,” kata Daranagama, yang menanam padi di pesisir Gampaha, seperti dikutip daro Bloomberg, Jumat (17/6/2022). “Saya belum pernah melihat situasi seperti ini.”

Jika itu terjadi, maka krisis pangan dan kelaparan akan semakin meningkat di Sri Lanka, di mana warga sudah kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan pokok seperti tepung dan susu bubuk.

Dari catatan yang diterbitkan pemerintah, Inflasi makanan sudah mencapai angka 60 persen. Dihadapkan dengan biaya yang selangit, banyak petani seperti Daranagama memilih meninggalkan profesinya untuk menanam padi sepanjang musim ini.

Resesi yang terjadi di negeri itu cukup mengerikan sejak merdeka dari Inggris pada 1948 lalu. Hal ini diperparah dengan anjloknya produksi beras pada musim panen lalu sebanyak 40 persen hingga 50 persen. Ditambah lagi dengan kelangkaan benih dan pupuk membuat hasil panen terancam susut hingga 50 persen tahun ini, demikian kata Menteri Pertanian, Mahinda Amaraweera.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe telah memperingatkan untuk mengatasi kelaparan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Sri Lanka selama beberapa bulan ke depan, di mana sejumlah warganya sudah mulai menimbun persediaan. PBB memperkirakan hampir seperempat penduduk sudah membutuhkan bantuan pangan.

Jayavardhana Pridarshani, ibu dari empat anak yang tinggal di Hambantota, benteng dinasti Rajapaksa yang berkuasa, mengatakan keluarganya biasa makan ikan atau telur setiap hari. Hari-hari ini, mereka hanya mampu memiliki barang-barang itu sebulan sekali.

“Anak-anak di sini, termasuk saya, menderita kelelahan dan kelemahan,” katanya, seraya menambahkan dokter telah mendiagnosa dia dan keluarganya telah menghadapi gejala kekurangan protein.

Entah sampai kapan kondisi di negara itu akan terus terjadi. Namun, sejumlah langkah telah dilakukan pemerintahnya untuk mengatasi gejolak ekonomi di negeri yang terletak di bawah India itu. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD