AALI
9975
ABBA
288
ABDA
7200
ABMM
1395
ACES
1370
ACST
202
ACST-R
0
ADES
3660
ADHI
890
ADMF
7600
ADMG
197
ADRO
2270
AGAR
350
AGII
1435
AGRO
1510
AGRO-R
0
AGRS
159
AHAP
72
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
177
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1140
AKRA
825
AKSI
795
ALDO
1320
ALKA
384
ALMI
294
ALTO
238
Market Watch
Last updated : 2022/01/14 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
509.74
0.24%
+1.24
IHSG
6693.40
0.53%
+35.05
LQ45
952.95
0.25%
+2.36
HSI
24383.32
-0.19%
-46.48
N225
28365.05
0.86%
+240.77
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,305
Emas
835,465 / gram

The Fed Diramalkan Naikkan Suku Bunga, Analis: Indonesia Sudah Lebih Siap

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Kamis, 04 November 2021 14:37 WIB
 Federal Reserve AS telah umumkan tapering dan mencetuskan bahwa rencana kenaikan suku bunga bisa terjadi. Berikut penjelasan analis soal kesiapan Indonesia.
The Fed Diramalkan Naikkan Suku Bunga, Analis: Indonesia Sudah Lebih Siap (Dok.MNC Media)
The Fed Diramalkan Naikkan Suku Bunga, Analis: Indonesia Sudah Lebih Siap (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu (3/11/2021) waktu AS. Selain itu,  Federal Reserve AS telah umumkan tapering dan mencetuskan bahwa rencana kenaikan suku bunga bisa terjadi. Bagaimana persiapan Indonesia terkait hal tersebut?

Head of Research Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy mengatakan Indonesia sudah jauh lebih siap dibandingkan masa sebelumnya, yakni pada 2013-2014 silam.

Hal itu tercermin dari neraca perdagangan masih berada pada posisi surplus yang didorong oleh nilai ekspor yang tinggi. Terlebih, kondisi neraca perdagangan RI tersebut juga menjadi penopang cadangan devisa.

"Perlu kita cermati sebenarnya bagaimana kesiapan dari market atau para pelaku kebijakan moneter dan fiskal? saya melihat Indonesia sudah jauh lebih baik dari pada yang mungkin terjadi di tahun 2013-2014. Kita bisa lihat dari indikator-indikator ekonomi dan fiskal di mana neraca perdagangan masih surplus karena ekspor kita nilainya tinggi sekali termasuk dari komoditas, itu juga menopang kenaikan cadangan devisa," terang Robertus dalam diskusi virtual, Kamis (4/11/2021).

Dengan senjata yang dimiliki Indonesia tersebut, menurut dia, itu dapat dijadikan instrumen utama yang dapat digunakan seandainya terjadi dampak yang terburuk sekalipun, seperti misalnya capital outflow.

"Kita juga lihat nilai tukar rupiah masih bisa dipertahankan, pasar obligasi juga masih stabil. Nah ini yang termasuk instrumen yang bisa digunakan juga oleh para penentu kebijakan moneter," tambahnya.

Sehubungan dengan rencana kenaikan suku bunga ini, negara-negara lain sudah melakukan antisipasi dengan menaikan suku bunga acuannya. Sementara, untuk Indonesia sendiri, Robertus menerangkan, Indonesia belum bisa untuk menaikkan suku bunga. Adapun kata dia, hal itu bisa saja terjadi jika inflasi mengalami kenaikan hingga 3 persen.

"Kita masih berharap inflasi bisa naik diatas 2-3 persen, baru setelah itu kenaikan suku bunga bisa dinaikkan. Tapi sekarang masih di kisaran 1,5-2 persen. Sehingga masih ada ruang untuk Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunganya, setidaknya untuk bisa mempertahankan nilai tukar rupiah dan juga meredam adanya kemungkinan dampak terburuk terhadap capital outflow," jelasnya.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD