AALI
8750
ABBA
226
ABDA
6025
ABMM
4470
ACES
650
ACST
193
ACST-R
0
ADES
7150
ADHI
760
ADMF
8500
ADMG
167
ADRO
3910
AGAR
296
AGII
2400
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
104
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
143
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1700
AKRA
1375
AKSI
328
ALDO
680
ALKA
286
ALMI
396
ALTO
178
Market Watch
Last updated : 2022/09/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
537.62
-0.34%
-1.81
IHSG
7112.45
-0.21%
-15.05
LQ45
1015.98
-0.41%
-4.21
HSI
17860.31
0.03%
+5.17
N225
26571.87
0.53%
+140.32
NYSE
0.00
-100%
-13797.00
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
794,741 / gram

Viral Tes Swab Antigen Secara Mandiri, Akurat Tidak?

ECONOMICS
Binti Mufarida
Kamis, 12 Agustus 2021 11:25 WIB
Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menyoroti ramai tes Covid-19 atau swab antigen secara mandiri.
Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menyoroti ramainya swab antigen mandiri.  (Foto: MNC Media)
Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menyoroti ramainya swab antigen mandiri. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menyoroti ramai tes Covid-19 atau swab antigen secara mandiri. Bahkan, alat tes swab antigen ini juga dijual bebas secara online.

“Hasil dari tes usap atau swab antigen memang cukup cepat. Tapi, yang jadi konsern saya adalah alat tes ini ramai diperjualbelikan di e-commerce -sehingga banyak orang melakukan tes secara mandiri- yang berisiko menghasilkan false negative,” ungkap Zubairi lewat media sosial pribadinya, Kamis (12/8/2021).

Zubairi pun memberikan pandangan bahwa masyarakat tidak dianjurkan untuk melakukan tes Covid-19 secara mandiri. "Ini pandangan saya, yang utama adalah saya tidak menganjurkan Anda melakukan tes swab antigen mandiri. Betul hasilnya cepat dan tidak perlu antre. Harganya juga terjangkau dibandingkan di fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan tingkat akurasinya? Bagaimana kalau pengambilan sampelnya salah? 

Zubairi pun menjelaskan memasukkan cotton bud panjang ke hidung hingga tiba di nasofaring juga bukan perkara mudah. Ada kemungkinan jika dilakukan mandiri itu hanya sampai rongga hidung saja dan yang terambil itu adalah air liur, bukan lendir.

“Pemeriksaan sampel air liur ini tentu lebih sulit dalam mendeteksi virus dan cenderung menunjukkan hasil negatif,” papanya.

“Nah, bagaimana jika tes usap mandiri itu menunjukkan hasil positif. Hal ini yang menurut saya cukup berbahaya bagi pasien,” kata Zubairi.

Persoalannya, kata Zubairi, kalau hasilnya itu positif, orang tersebut tidak bisa menentukan sendiri bahwa dia cukup isolasi mandiri begitu saja. 

“Ya belum tentu benar. Beberapa orang yang positif kan memerlukan perawatan yang intensif di rumah sakit. Seperti diinfus, dapat suntikan Heparin, tambah oksigen, obat-obat Dexamethasone, Remdesivir, Favipiravir, dll,” katanya.

Dia mengatakan, kalau orang itu seharusnya perlu tindakan-tindakan medis tadi, kemudian tidak mendapatkannya, ya akan berbahaya untuk jiwanya. Terkecuali pemakaian alat tes usap tadi dipandu dan dimonitor oleh profesional. Misalnya melalui video call, Zoom atau apapun yang bisa memberi tahu orang itu benar atau salah dalam pemakaiannya. 

“Kalau diketahui positif, ya berlanjut dengan konseling,” paparnya.

Sementara itu, Zubairi pun menegaskan bahwa tes antigen hanya untuk screening awal. “Penting untuk dicatat, tes antigen hanya screening awal. Hasilnya harus tetap dikonfirmasi dengan tes usap PCR.”

“Yang juga penting adalah, Anda harus melapor ke petugas puskesmas jika hasil tes antigen Anda positif, demi kepentingan pendataan dan memutus mata rantai Covid-19,” tegas Zubairi. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD