AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Wacana PPh Bakal Naik, Pemilik Kedai Kopi: Sekarang Saja Masih Nombok

ECONOMICS
Azfar Muhammad
Sabtu, 25 September 2021 17:20 WIB
Ini salah satu tanggapan pelaku usaha (UMKM) terkait RUU KUP.
Wacana PPh Bakal Naik, Pemilik Kedai Kopi: Sekarang Saja Masih Nombok (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Kalangan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau pelaku bisnis menanggapi ketentuan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang akan menerapkan pajak sebesar 1 persen dari penghasilan bruto terhadap pelaku UMKM.

Termasuk Ali Zakaria (31), seorang owner atau pemilik usaha kedai kopi kekinian di kawasan Kayuringin, Bekasi Jawa Barat bernama ' Je kopi' merasa terbebani dengan adanya wacana kebijakan kenaikan pajak penghasilan tersebut.

"Terkait dengan RUU pajak penghasilan naik menjadi 1 % saya juga masih belum tahu persis untuk pemerataan regulasinya. belum fix juga kan apakah itu mutlak total secara omset total atau ada relaksasinya lagi bagaimana kita masih melihat nanti," kata Ali kepada MNC Portal Indonesia, Sabtu (25/9/2021)

Dirinya mengaku meski belum diresmikan secara 'fix' ia mengaku keberatan dengan kenaikan wajib pajak tersebut terlebih disaat kondisi saat ini masih pandemi Covid-19.

"Kalau seperti ini sebenarnya yang kami perlukan adalah sejumlah relaksasi ataupun stimulus bagi pelaku-pelaku usaha mau UMKM yang resmi atau seperti saya yang swasta atau perorangan agar usaha lebih lancar lagi," paparnya.

"Mungkin Ada beberapa yang Mampu, untuk bisa membayar dalam artian mereka bisnisnya memiliki skala yang besar. Namun diperhatikan lagi untuk kita (pelaku usaha) yang biasa-biasa mah ya bayar pajak di masa kaya gini masih nombok-nombokin," terangnya

Dirinya memperumpamakan di masa sekarang masih ada sejumlah usaha atau UMKM yang jatuh kemudian tertimpa tangga.

"Omset masih fluktuatif di kondisi Covid-19 saja motong gila-gilaan ya sampai 50 % bahkan lebih PPKM juga benar-benar nombok sekali, untuk hari biasa sebelum pandemi biasanya Untuk omset kotor tanpa dipotong lain-lain 7-15 Juta," paparnya.

Meski demikian, ia mengaku sebagai pelaku UMKM secara individu masih belum mendapatkan banyak kucuran dana dari pihak pemerintah dan terus melakukan inovasi penjualan di kedai kopinya untuk kembali menarik pelanggan di masa kelonggaran PPKM di masa pandemi. 

"Ya kita berusa taat demi pemerintah, sementara kami juga bayar pajak sih taat setiap satu tahun sekali sebanyak 0,5 persen namun masih menggunakan pajak penghasilan pribadi atau NPWP pribadi, kami juga dapat  banyak informasi terkait tekanan untuk dari keanggotaan UMKM dari pemerintah itu  sendiri," tandasnya.  

(IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD