IDXChannel - Maskapai penerbangan murah merasakan dampak finansial dari tingginya harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah.
Dilansir dari AFP pada Jumat (1/5/2026), sejumlah maskapai tersebut memangkas jumlah penerbangan.
Penutupan Selat Hormuz mengguncang pasar minyak dunia, menyebabkan harga bahan bakar pesawat jet melonjak dan memicu kekhawatiran akan kekurangan pasokan.
Maskapai penerbangan murah—yang menguasai sekitar sepertiga pasar global—merasakan dampaknya lebih dulu karena sifat model bisnis mereka.
Karena menjual tiket yang lebih murah, mereka memiliki ruang yang lebih sedikit untuk menyerap kenaikan biaya bahan bakar.
Jika sebelum perang maskapai penerbangan mampu mempertahankan rute yang sedikit menguntungkan atau bahkan rute yang tidak menguntungkan, lonjakan harga bahan bakar akan memaksa mereka untuk membuat pilihan yang sulit.
Hal itu akan dilakukan oleh banyak maskapai selama musim liburan puncak musim panas.
"Sayangnya, sangat mungkin liburan banyak orang akan terpengaruh, baik oleh pembatalan penerbangan atau tiket yang sangat, sangat mahal," kata Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, kepada Sky News pekan lalu.
Air Transat, maskapai penerbangan murah Kanada, telah memangkas enam persen jadwal penerbangannya dari Mei hingga Oktober.
Maskapai penerbangan murah terbesar di Asia Tenggara, AirAsia X, mengumumkan akan memangkas penerbangan tanpa memberikan angka pasti.
Maskapai Jerman, Lufthansa, baru-baru ini mengumumkan akan memangkas 20.000 penerbangan hingga Oktober.
Saingan Lufthansa di Eropa, Air France-KLM, memangkas dua persen penerbangan pada Mei dan Juni di anak perusahaan berbiaya rendahnya, Transavia.
Ryanair tidak menyebutkan harga bahan bakar ketika mengumumkan pekan lalu bahwa pihaknya akan mengurangi penerbangan ke dan dari Berlin mulai Oktober. Maskapai ini juga memangkas 10 persen penerbangan dari Dublin, mengkritik kapasitas terbatas di bandara tersebut.
Sejak awal bulan, Volotea dari Spanyol telah memangkas hampir satu persen penerbangan dari jadwal musim panasnya. (Wahyu Dwi Anggoro)