AALI
9925
ABBA
400
ABDA
6500
ABMM
1555
ACES
1275
ACST
236
ACST-R
0
ADES
3050
ADHI
1085
ADMF
7800
ADMG
195
ADRO
1925
AGAR
330
AGII
1485
AGRO
2240
AGRO-R
0
AGRS
187
AHAP
71
AIMS
440
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1070
AKRA
4290
AKSI
400
ALDO
960
ALKA
240
ALMI
246
ALTO
262
Market Watch
Last updated : 2021/12/08 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
504.74
-0.54%
-2.76
IHSG
6603.80
0.02%
+1.23
LQ45
945.59
-0.48%
-4.58
HSI
23996.87
0.06%
+13.21
N225
28860.62
1.42%
+405.02
NYSE
0.00
-100%
-16591.97
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,343
Emas
824,868 / gram

Saluran Distribusi Online Baru Berkontribusi 10 Persen pada Industri Film Indonesia

ECOTAINMENT
Iqbal Dwi Purnama
Jum'at, 01 Oktober 2021 12:56 WIB
Pendistribusian film melalui chanel digital tetap tidak bisa menggantikan kerugian yang dialami pengusaha bioskop saat pandemi.
Pendistribusian film melalui chanel digital tetap tidak bisa menggantikan kerugian yang dialami pengusaha bioskop saat pandemi. (Foto: MNC Media)
Pendistribusian film melalui chanel digital tetap tidak bisa menggantikan kerugian yang dialami pengusaha bioskop saat pandemi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia Edwin Nazir mengatakan pendistribusian film melalui chanel digital tetap tidak bisa menggantikan kerugian yang dialami pengusaha bioskop saat pandemi.

Menurutnya kontribusi dari pendistribusian film secara online hanya 10% dari seluruh kebutuhan industri perfilman.

"Sehingga kalau itu menjadi chanel distribusi yang sekarang disasar oleh teman-teman di film, mungkin itu hanya bisa menampung sekitar 10% dari seluruh kebutuhan industri," ujarnya dalam Market Review IDXChanel, Jumat (1/10/2021).

Edwin menjelaskan industi film nasional saat ini masih menggantungkan pendapatannya ekonominya dari menjalankan operasional bioskop. Bioskop bukan hanya sekedar sebagai medium pendistribusian film saja, namun melahirkan satu kesatuan ekosistem ekonomi.

Misalnya dari sisi pegawai bioskop yang mayoritas adalah pekerja harian dan pekerja kontrak, jadi ketika bioskop menghadapi penutupan, praktis banyak pegawai yang dirumahkan.

Dalam kesempatannya Edwin juga menceritakan bagaimana besarannya kerugian yang dialami oleh seluruh bioskop ditanah air ketika dipaksa tutup selam 9 bulan lamanya.

Menurut Edwin, dampak penutupan itu membuat bioskop kehilangan potensi pendapatannya hingga Rp2 triliun.

Pasaslnya sebelum pandemic penton film nasional mencapai 52 juta penonton setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun 2020, bioskop hanya dizinkan selama 2,5 bulan dengan jumlah penonton hanya 12 juta.

Jika harga tiket penonton selama tahun 2020 dianggap sama dengan tahun 2019, walaupun menurut edwin berpotensi ada peningkatan, itu menimbulkan kerugian yang cukup dalam.

"Jadi kalau kita menghitung 40 juta penonton itu dengan potensi pendapatan penjualan tiket bioskop dengan angka rata-rata Rp40 sampai Rp50 ribu, artinya itu saja sudah hampir Rp2 triliun potensi ekononi yang hilang selama tahun 2020, itu belum menghitung penjualan ke platform digital dan chanel distribusi lainnya," pungkasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD