Raja menilai peluang delisting lebih besar terjadi pada perusahaan dengan sponsor kaya kas, bisnis yang sudah matang, serta kebutuhan pendanaan pasar modal yang semakin kecil.
Menurut Raja, privatisasi di Indonesia secara historis menawarkan premi sekitar 100 persen dibanding harga pasar sebelum transaksi diumumkan.
Bahana menilai investor perlu mencermati sinyal awal menuju privatisasi seperti perubahan panduan kinerja, peningkatan treasury stock, maupun perubahan kebijakan dividen.
Dalam cakupan saham yang mereka pantau, Bahana menjagokan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sebagai kandidat utama penerima manfaat dari ekspansi free float.
Menurut Raja, BRIS memiliki prospek pertumbuhan dari penguatan bisnis perbankan syariah, sedangkan PGEO ditopang ekspansi kapasitas panas bumi yang masih agresif.