Pratomo menjelaskan bahwa dalam struktur kerja Bank Jago, AI sengaja dimanfaatkan untuk memberi saran, namun pada saat yang sama, proses pengambilan keputusan tetap berada di tangan manusia.
Sehingga, menurut Pratomo, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna.
"Sebagai bank berbasis teknologi, kami menempatkan AI sebagai alat pendamping digital yang membantu pekerjaan rutin. Dengan begitu, waktu dan perhatian karyawan dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman terhadap nasabah, penyelesaian persoalan, hingga pengembangan anggota tim," ujar Pratomo.
Dalam hal ini, cara kerja di dalam organisasi pun ikut disesuaikan, di mana setiap tenaga kerja Bank Jago mendapat ruang lebih besar untuk mengambil keputusan.
Di lain pihak, tim memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu keputusan dari jenjang yang lebih tinggi.