Melalui keterbukaan ini, bursa berupaya memitigasi risiko volatilitas ekstrem sekaligus menjaga kestabilan iklim transaksi saham di pasar modal Indonesia.
Bursa juga memberikan perhatian khusus pada aspek edukasi dan perlindungan bagi para pemodal ritel di tengah dinamika pergerakan harga saham HSC yang fluktuatif. Investor diingatkan untuk tidak sekadar berspekulasi mengikuti tren sesaat tanpa melakukan analisis yang mendalam terhadap kondisi keuangan perusahaan terkait.
"Kami imbau untuk selalu mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan faktor fundamental dan selalu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing," tutur Jeffrey.
Adapun sebelumnya, BEI memasukkan 37 saham baru ke dalam kelompok HSC. Penambahan ini akan mengerek total emiten yang masuk ke dalam radar pengawasan HSC bursa menjadi 51 emiten.
Langkah pengetatan tersebut dilakukan setelah otoritas bursa merevisi metodologi penentuan kriteria HSC. Formulasi baru ini menyertakan parameter rasio dampak harga (price-impact ratio) khusus bagi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp10 triliun.