AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19610.84
-1.96%
-392.60
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
0.00
-100%
-15305.80
Kurs
HKD/IDR 195
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

'Boncos' 3,32 Persen Sepanjang Juni, Juli Bisa Jadi Bulannya IHSG Lagi?

MARKET NEWS
Aldo Fernando - Riset
Kamis, 30 Juni 2022 17:32 WIB
Investor asing melego dalam jumlah besar dan IHSG pun ambles selama Juni. Bagaimana nasib indeks saham acuan RI tersebut sepanjang Juli?
'Boncos' 3,32 Persen Sepanjang Juni, Juli Bisa Jadi Bulannya IHSG Lagi? (Foto: MNC Media)
'Boncos' 3,32 Persen Sepanjang Juni, Juli Bisa Jadi Bulannya IHSG Lagi? (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melewati Juni dengan kelabu. Investor asing melego dalam jumlah besar dan IHSG pun ambles selama Juni. Bagaimana nasib indeks saham acuan RI tersebut sepanjang Juli?

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok ke 6.911,58 hingga minus 3,32% selama Juni. Sementara, investor asing membukukan jual bersih (net sell) jumbo Rp5,51 triliun di pasar reguler sepanjang bulan ini.

Asing sendiri paling banyak melego saham-saham big cap perbankan—yang merupakan penggerak utama IHSG--selama Juni.

Sebut saja, saham  PT Bank Sentral Asia Tbk (BBCA) dengan nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp1,5 triliun di pasar reguler. Saham BBCA—emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa--sendiri minus 4,29% selama bulan Juni.

Demikian pula dengan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkena net sell Rp1,4 triliun dan harga sahamnya ambles 6,76% sepanjang bulan yang sama.

Saham emiten bank kakap lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), juga membukukan net sell jumbo Rp1,2 triliun di pasar reguler yang turut membuat harga saham perseroan anjlok 6,92% selama Juni.

Kemudian, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), terkena net sell Rp594,7 miliar di pasar reguler. Selama Juni, harga saham BBNI anjlok cukup dalam, mencapai 11,30%.

Apabila menilik data historis, ‘boncosnya’ IHSG selama Mei (- 1,11%) dan Juni (-3,32 %) berpeluang berbalik menjadi positif pada Juli. Kendati, memang dengan banyak catatan terkait sentimen eksternal.

Secara musiman (seasonality), Juli—bersama Desember dengan ‘window dressing’-nya—sering menjadi bulannya IHSG. Maksudnya, IHSG cenderung menghijau selama bulan tersebut.

Menurut data historis, dalam 20 tahun terakhir (2002-2021), IHSG berhasil menguat sebanyak 16 kali dan hanya empat kali melemah (2002, 2008, 2013, dan 2015) sepanjang Juli. Dus, rerata kenaikan IHSG selama Juli dalam 20 tahun mencapai 2,71%.

Sementara, dalam 10 tahun belakangan (2012-2021), IHSG sukses naik 8 kali dan hanya 2 kali turun dengan rerata kenaikan 1,59%.

Selain itu, dalam 6 tahun terakhir IHSG selalu berakhir menghijau sepanjang Juni dengan rerata kenaikan 2,24%.

Data historis tersebut mungkin bisa menjadi pegangan para investor untuk menghadapi peralihan dari semester I ke semester II tahun ini.

Ada Aral Menggalang, IHSG Kuat?

Hanya saja, tone sentimen global menjadi aral gendala untuk pergerakan IHSG.

Fluktuasi IHSG sepanjang paruh pertama tahun ini, terutama periode Mei-Juni, tak bisa dilepaskan dari sentimen global, terutama efek kenaikan suku bunga oleh bank sentral negara utama dan dampak lanjutan dari perang di Ukraina.

Rezim kenaikan suku bunga, yang dipimpin oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), sendiri semata-mata diberlakukan demi meredam inflasi yang meroket, terutama dampak dari macetnya rantai pasok global di tengah perang dan pemulihan pandemi.

The Fed, misalnya, menerapkan kebijakan pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga secara agresif, termasuk quantitative tightening (QT) untuk mengakhiri  kebijakan uang longgar (quantitative easing/QE, suku bunga rendah).

Inflasi yang masih di atap langit tersebut membuat Jerome Powell dkk masih akan terus bersikap ‘galak’ ke depan.

Bahkan, menjawab pertanyaan Senator dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren, dalam pertemuan di Washington, Rabu (22/6), sang Ketua The Fed tersebut mengakui , potensi resesi sangat memungkinkan untuk dapat terjadi pada kondisi saat ini.

Namun, Powell juga menekankan bahwa hal itu merupakan konsekuensi logis dari upaya The Fed untuk menekan posisi inflasi.

"(Kondisi) Itu (terjadinya resesi) sama sekali bukan hasil yang kami inginkan, tapi tentu itu sebuah kemungkinan (yang bisa terjadi)," ujar Powell.

Aksi pamer ‘otot’ ala Powell atau, meminjam istilah seorang investor, Powell Power, pun tampaknya belum berakhir. Ini terlihat dari polling teranyar Reuters.

Menurut ekonom yang disurvei Reuters, selama 17-21 Juni, The Fed akan menaikkan suku bunga 75 basis poin (bps) atau 0,75% pada pertemuan Juli, diikuti 0,50% pada September.

Memang, sejauh ini IHSG sanggup melaju hingga  sekaligus menjadi yang terbaik sepanjang semester I di kawasan Asia-Pasifik.

Menghijaunya IHSG tampak mengindikasikan bahwa bursa saham domestik sejauh ini kebal terhadap goncangan global di tengah masih kuatnya fundamental ekonomi dan boom commodities (meroketnya harga batu bara dan minyak sawit/CPO yang merupakan andalan ekspor RI).

Hanya saja, jalan ke depan masih terjal. Masih ada sejumlah kemungkinan yang bisa membuat kinerja IHSG terganggu, termasuk soal The Fed yang disebutkan di atas.

The Fed sendiri akan kembali menggelar rapat bulanan untuk membahas soal keputusan suku bunga acuan pada akhir Juli mendatang.

Selain itu, sedikit catatan kecil, kendati data musiman di atas penting untuk dipelajari dan dijadikan indikator, kinerja historis tidak serta-merta mampu memproyeksikan kinerja masa depan.

Untuk itu, dalam berinvestasi, investor tetap harus memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kondisi ekonomi makro, politik, industri, hingga fundamental serta prospek masing-masing emiten. (ADF)


Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD