Menurut Yudicia, lokasi tambang BUMI yang strategis turut mendukung distribusi batu bara ke berbagai pasar internasional, khususnya Asia dan Eropa. Perseroan juga didukung fasilitas pertambangan terbuka dengan fasilitas pengolahan yang beroperasi 24 jam sepanjang tahun.
Selain itu, perusahaan memiliki infrastruktur pendukung seperti loading terminal, fasilitas pelabuhan, hingga captive power plant yang menjadi keunggulan kompetitif dalam operasional.
Di sisi lain, BUMI juga mulai melakukan diversifikasi bisnis untuk menghadapi ketidakpastian pasar. Selain mengantongi kepemilikan saham di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), perseroan juga mulai masuk ke pengembangan komoditas mineral seperti emas, perak, dan bauksit.
Sementara itu, dari sisi kinerja keuangan hingga sembilan bulan 2025, BUMI mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12 persen dan kenaikan laba kotor hingga 7 persen. Meski laba bersih tercatat turun 56 persen, penurunan tersebut dipengaruhi adanya penyesuaian transaksi non-tunai pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Secara full year kalau dilihat dari 2024 versus 9 bulan 2025 kita masih on-track (sesuai target) untuk growth (pertumbuhan) dari batu baranya ini dari pendapatan selama full year 2025,” kata Yudicia.
(Rahmat Fiansyah)