Dari dalam negeri, daya tarik rupiah di mata investor ikut merosot merespons rilis data inflasi bulanan. Berdasarkan laporan terbaru, angka inflasi Indonesia pada periode Mei 2026 melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), memperlihatkan laju peningkatan yang lebih tinggi ketimbang realisasi bulan April 2026 yang berada di angka 0,13 persen.
Meskipun laju inflasi mengalami kenaikan, struktur eksternal Indonesia sebenarnya masih ditopang oleh kinerja ekspor-impor yang positif. Neraca perdagangan nasional pada bulan April 2026 dilaporkan tetap mencatatkan surplus senilai USD89,1 juta.
Dengan torehan tersebut, Indonesia berhasil memperpanjang rekor impresif dengan mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020.
(NIA DEVIYANA)