sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Data Ketenagakerjaan hingga Laporan Keuangan Bank Besar Uji Wall Street Pekan Depan

Market news editor Nia Deviyana
03/01/2026 07:30 WIB
Data ketenagakerjaan yang akan dirilis pada 9 Januari menjadi salah satu faktor yang menentukan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).
Data Ketenagakerjaan hingga Laporan Keuangan Bank Besar Uji Wall Street Pekan Depan. Foto: AP.
Data Ketenagakerjaan hingga Laporan Keuangan Bank Besar Uji Wall Street Pekan Depan. Foto: AP.

IDXChannel - Minggu perdagangan penuh pertama di 2026 pada pekan depan berpotensi kembai meningkatkan dinamika di pasar saham Amerika Serikat (AS) setelah periode libur musim dingin.

Data ketenagakerjaan bulanan menjadi sorotan utama di tengah padatnya agenda ekonomi yang mengawali 2026.

Data ketenagakerjaan yang akan dirilis pada 9 Januari menjadi salah satu faktor yang menentukan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed). Sebelumnya, kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed menurunkan suku bunga pada tiga pertemuan terakhirnya di 2025, saat bank sentral AS menyeimbangkan target lapangan kerja penuh dan inflasi yang terkendali. 

Suku bunga yang lebih rendah telah berhasil menopang saham di 2025. Namun, sejauh mana pemangkasan lanjutan pada 2026 masih belum jelas.

Pejabat The Fed terbelah pandangannya mengenai arah kebijakan moneter pada pertemuan terakhir di Desember. Inflasi masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. 

Dengan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen, kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang yang kecil untuk pemangkasan pada pertemuan berikutnya di akhir Januari, tetapi hampir 50 persen peluang pemangkasan seperempat poin pada Maret.

"Fakta bahwa pasar tenaga kerja mulai melunak benar-benar memberi The Fed alasan kuat untuk mengubah pandangannya soal penurunan suku bunga," kata Kepala investasi di North Star Investment Management, Chicago, Eric Kuby, dilansir Reuters, Jumat (2/1/2025).

Namun di saat yang sama, investor juga waspada laporan yang terlalu lemah bisa menandakan kekhawatiran ekonomi yang lebih serius daripada yang saat ini diperkirakan pasar.

Jumlah lapangan kerja pada Desember diperkirakan bertambah 55.000, menurut jajak pendapat Reuters. Jumlah tenaga kerja (payrolls) naik 64.000 pada November, namun tingkat pengangguran mencapai 4,6 persen, tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

"Jika pertumbuhan lapangan kerja mulai melemah, berarti hal itu akan menjadi sinyal bahwa resesi jauh lebih dekat daripada yang diperkirakan banyak orang,” kata Maley.

Inflasi dan laba kuartal IV

Data lain pekan depan mencakup aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Laporan yang sangat diperhatikan terkait tren inflasi, yakni indeks harga konsumen (CPI) AS bulanan, dijadwalkan rilis pada 13 Januari.

Investor juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartal keempat, dengan hasil JPMorgan yang akan dirilis pada 13 Januari, diikuti laporan bank-bank besar lainnya pada pekan yang sama.

Dengan saham diperdagangkan pada valuasi yang secara historis tergolong tinggi, investor bertaruh pada pertumbuhan laba yang kuat. Secara keseluruhan, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan naik 13 persen pada 2025, dan kembali meningkat 15,5 persen pada 2026, menurut data LSEG IBES.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement