sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dolar AS Balik Menguat di Tengah Kemungkinan The Fed Tahan Suku Bunga

Market news editor Nia Deviyana
14/01/2026 09:51 WIB
Data inflasi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.
Dolar AS Balik Menguat di Tengah Kemungkinan The Fed Tahan Suku Bunga. Foto: Freepik.
Dolar AS Balik Menguat di Tengah Kemungkinan The Fed Tahan Suku Bunga. Foto: Freepik.

IDXChannel - Dolar AS kembali menguat mendekati level tertinggi dalam satu bulan pada awal perdagangan Asia, Rabu (14/1/2026), setelah data inflasi AS (CPI) yang dirilis sejalan dengan perkiraan. 

Data ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini, meskipun ada tekanan dari Gedung Putih terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

Melansir Reuters, indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen ke level 99,18. 

Kenaikan ini memangkas pelemahan yang terjadi pada hari sebelumnya, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Ketua The Fed Jerome Powell dengan tuntutan pidana. Para pimpinan bank sentral global dan CEO bank-bank besar Wall Street pada Selasa menyatakan dukungan mereka terhadap Powell.

“Intervensi semacam itu berisiko menimbulkan konsekuensi negatif berupa inflasi yang lebih tinggi, biaya pendanaan pemerintah yang lebih mahal, serta volatilitas yang lebih besar dalam aktivitas ekonomi,” ujar Kepala Ekonomi G3 di ANZ London, Brian Martin.

Pada Selasa, data menunjukkan harga konsumen AS naik 0,3 persen pada Desember dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh biaya sewa dan makanan yang lebih tinggi, seiring memudarnya sejumlah distorsi akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang sebelumnya menekan inflasi secara artifisial pada November.

Data tersebut semakin mengukuhkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga bulan ini. Kontrak berjangka Fed funds saat ini mencerminkan probabilitas implisit sebesar 95,6 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga ketika rapat dua harinya berakhir pada 28 Januari, tidak berubah dari sehari sebelumnya, menurut FedWatch Tool milik CME Group.

Volatilitas di sebagian besar pasangan mata uang relatif rendah pada awal perdagangan Asia, menjelang kemungkinan putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif darurat yang diberlakukan Trump.

Terhadap yen Jepang, dolar AS terakhir tercatat stagnan di 159,025 yen. Terhadap yuan China yang diperdagangkan di luar negeri (offshore) di Hong Kong, dolar AS terakhir stagnan di 6,9708 yuan, menjelang rilis data perdagangan China untuk Desember yang dijadwalkan beberapa jam kemudian.

Dolar Australia terakhir naik 0,1 persen ke level USD0,6688, sementara dolar Selandia Baru menguat tipis 0,1 persen ke USD0,5740. Euro tercatat stagnan di USD1,1642, sementara poundsterling Inggris juga bertahan di USD1,3423.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement