Sejak konflik pecah pada Sabtu, Brent telah melonjak 12 persen.
Melansir dari Reuters, pasukan Israel dan AS menggempur sejumlah target di Iran pada Selasa, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk dan meluas hingga Lebanon.
Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah Arab Saudi, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari.
Pemangkasan ini bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari ke depan karena negara tersebut kehabisan kapasitas penyimpanan untuk minyak yang tak dapat diekspor akibat krisis.
Iran merespons dengan menyerang infrastruktur energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kapal tanker dan kapal kontainer kini menghindari selat tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan kapal dan tarif pengiriman minyak serta gas global melonjak tajam.