IDXChannel - PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) memutuskan menangguhkan pengembangan proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang dijalankan anak usahanya, PT ESSA SAF Makmur (ESM). Keputusan tersebut efektif berlaku mulai akhir bulan ini.
Senior Legal Manager & Corporate Secretary PT ESSA Industries Indonesia Tbk, Shinta D.U. Siringoringo menjelaskan keputusan itu diambil setelah perseroan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai faktor strategis dan kondisi pasar terkini.
"PT ESSA SAF Makmur (ESM), salah satu anak perusahaan ESSA, berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap berbagai faktor strategis dan kondisi pasar terkini, telah memutuskan untuk melakukan penangguhan atas pengembangan Proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang berlaku efektif sejak tanggal 27 Juli 2026," katanya melalui keterbukaan informasi, Senin (27/7/2026).
ESSA menegaskan penangguhan tersebut bukan berarti pembatalan proyek. Perseroan tetap berkomitmen mengembangkan bisnis rendah karbon dan akan terus memantau perkembangan pasar, peluang bisnis, kemajuan teknologi, serta berbagai faktor strategis lainnya sebelum melanjutkan proyek tersebut.
Selain itu, perseroan juga memastikan keputusan tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional utama maupun anak usaha lainnya.
"ESSA tetap menjalankan seluruh kegiatan usaha sesuai dengan strategi bisnis dan rencana kerja yang telah ditetapkan," katanya.
Selain itu, ESSA menyatakan penangguhan proyek SAF tidak menimbulkan dampak hukum yang material maupun memengaruhi kondisi keuangan perseroan. Keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah strategis untuk menjaga fleksibilitas alokasi modal sekaligus mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Proyek Sustainable Aviation Fuel (SAF) merupakan bagian dari strategi ESSA untuk memperluas portofolio bisnis rendah karbon seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan. SAF merupakan bahan bakar alternatif yang diproduksi dari bahan baku berkelanjutan seperti minyak jelantah dan dinilai mampu menekan emisi karbon dibandingkan bahan bakar avtur konvensional.
(Rahmat Fiansyah)