Mayoritas kenaikan tersebut diperkirakan berasal dari pertumbuhan laba, bukan dari ekspansi valuasi. Namun, pada fase siklus akhir seperti saat ini, kenaikan valuasi masih berpotensi memberikan kejutan positif.
Meski perhatian investor masih tertuju pada kecerdasan buatan (AI), 2025 justru menjadi tahun yang baik untuk diversifikasi.
Goldman Sachs mencatat kinerja saham AS mulai tertinggal dibanding kawasan lain untuk pertama kalinya dalam hampir 15 tahun.
Di sisi lain, rotasi faktor berjalan efektif, dengan saham growth tetap dominan di AS, sementara saham value investing tampil lebih baik di Eropa. Kinerja sektor juga semakin merata, tidak lagi terpusat pada teknologi.
Untuk 2026, Goldman Sachs menilai return pasar saham akan lebih bergantung pada pertumbuhan fundamental laba, seiring valuasi yang sudah tinggi di hampir semua kawasan.