IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan pekan ini hingga menembus level 6.233.
Meredanya ketegangan geopolitik global dan stabilnya harga komoditas menjadi katalis positif yang dapat membantu pasar saham domestik keluar dari tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Sentimen utama datang dari perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengarah pada kesepakatan damai. Prospek dibukanya kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz memicu penurunan harga minyak mentah dunia sekitar 3-4 persen dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi energi global.
"IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini dengan target menguji area resistance 6.233, sementara level 5.900 menjadi support penting yang perlu dijaga," ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, perbaikan sentimen global tercermin dari penguatan serentak indeks-indeks saham utama di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia yang ditutup di zona hijau. Di saat yang sama, indeks volatilitas atau VIX mengalami penurunan signifikan, mengindikasikan bahwa tingkat kekhawatiran investor mulai mereda.
Perbaikan persepsi risiko terhadap Indonesia juga terlihat dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun serta menguatnya ETF Indonesia (EIDO) yang diperdagangkan di Amerika Serikat.
Bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak, penurunan harga energi global dinilai memberikan keuntungan ganda. Selain membantu menjaga stabilitas fiskal, kondisi tersebut juga berpotensi memperbaiki prospek makroekonomi nasional.
Di sisi lain, pasar saham domestik turut memperoleh dukungan dari tren positif harga sejumlah komoditas logam seperti emas, perak, tembaga, nikel, dan timah. Kenaikan harga komoditas tersebut menjadi katalis bagi emiten-emiten pertambangan mineral yang memiliki bobot cukup besar di pasar.
Meski faktor eksternal mulai membaik, Hendra menilai investor masih menaruh perhatian besar terhadap perkembangan kebijakan ekonomi di dalam negeri. Kejelasan arah kebijakan fiskal, efisiensi belanja negara, dan pengelolaan anggaran menjadi faktor penting yang akan menentukan keberlanjutan penguatan pasar.
"Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih prudent dan kredibel," tutur dia.
Dia menambahkan, kekhawatiran investor selama beberapa bulan terakhir lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian kebijakan domestik dibandingkan faktor geopolitik global. Karena itu, konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pelaku pasar.
Jika stabilitas tersebut dapat dipertahankan, arus dana asing berpeluang kembali mengalir ke pasar modal Indonesia secara lebih berkelanjutan. Menurut Hendra, penguatan fundamental ekonomi domestik akan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan IHSG kembali memasuki tren bullish yang lebih solid.
"Untuk membawa IHSG kembali ke tren bullish yang lebih kuat, pasar membutuhkan katalis berupa peningkatan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi nasional dan perbaikan prospek pertumbuhan domestik jangka menengah," tuturnya.
(DESI ANGRIANI)