IDXChannel - Harga aluminium menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), didukung oleh kondisi pasokan yang masih ketat serta sedikit perbaikan sentimen terhadap risiko ekonomi yang turut menopang harga logam industri lainnya.
Kontrak aluminium tiga bulan acuan di London Metal Exchange (LME) naik 0,32 persen menjadi USD3.294 per ton pada pukul 14.00 WIB.
Sebelumnya, harga aluminium sempat menyentuh USD3.306,50 per ton, level tertinggi sejak 13 Agustus.
Sementara itu, kontrak aluminium yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 1,29 persen menjadi 24.370 yuan.
Kepala riset pasar dan data intelligence AL Circle Rupankar RM mengatakan, harga aluminium ditopang kombinasi pengurangan stok fisik, ekspektasi peningkatan permintaan musiman di China, serta pertumbuhan pasokan yang relatif terbatas.
"Aluminium mendapat dukungan dari kombinasi pengurangan stok fisik, ekspektasi perbaikan permintaan musiman di China, dan pertumbuhan pasokan yang relatif terbatas," ujar Rupankar, seperti dikutip Reuters.
Meski terdapat harapan pasokan kembali pulih dari produsen-produsen besar di Timur Tengah, para analis memperkirakan pasar aluminium tetap mengalami defisit sepanjang tahun ini.
Stok aluminium di LME juga masih berada di dekat level terendah dalam 36 tahun. Aluminium merupakan salah satu logam yang banyak digunakan dalam industri manufaktur, barang konsumsi, dan otomotif.
Harga Tembaga dan Seng Bervariasi
Di sisi lain, harga tembaga dan seng, yang menjadi dua logam industri dengan penurunan terbesar pada perdagangan Rabu akibat meredanya kekhawatiran terkait pasokan serta meningkatnya sikap investor menghindari risiko makroekonomi, bergerak bervariasi.
Harga tembaga di LME naik 0,08 persen, sedangkan di SHFE menguat 0,28 persen. Harga seng di LME naik 0,35 persen, sementara kontrak seng di SHFE turun tipis 0,13 persen.
Selisih harga tembaga tunai dan kontrak tiga bulan di LME juga masih berada dalam kondisi backwardation pada Rabu. Kondisi tersebut mengindikasikan ketatnya ketersediaan tembaga dalam jangka pendek.
Namun, selisih tersebut menyempit menjadi USD87,56 per ton, level terendah sejak 21 Agustus.
Indeks dolar AS turun 0,29 persen pada Kamis sehingga turut memberikan dukungan bagi kompleks logam dasar.
Pelemahan dolar membuat komoditas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Sementara itu, pasar obligasi dan saham menguat. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada September juga melandai menjadi 60 persen dari 67 persen pada Senin berdasarkan CME FedWatch.
Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan permintaan komoditas yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi karena dapat mengurangi aktivitas ekonomi.
Di antara logam LME lainnya, timbal naik tipis 0,05 persen, nikel relatif stagnan dengan kenaikan 0,01 persen, sedangkan timah menguat 0,18 persen.
Di SHFE, harga timbal turun 0,31 persen, nikel melonjak 1,8 persen, sementara timah naik tipis 0,06 persen. (Aldo Fernando)