IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut pada Jumat (22/8/2025), setelah berhasil bangkit dari koreksi tiga hari.
Kenaikan ini ditopang oleh penguatan semalam pada minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago, ditambah ekspor yang kuat serta pertumbuhan produksi yang terbatas.
Kontrak berjangka (futures) CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives melesat 1,64 persen, menjadi MYR4.536 per ton pada 16.16 WIB. Sejauh pekan ini, kontrak tersebut sudah menguat 0,40 persen.
“Produksi CPO kita di Agustus cenderung rendah. Angka awal mengindikasikan pertumbuhan hanya sekitar 2-3 persen dan ekspor akan tetap kuat untuk Agustus dan September,” ujar Direktur Pelindung Bestari, sebuah broker berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, dikutip Reuters.
Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai teraktif naik 0,52 persen, sementara kontrak minyak sawit turun 0,17 persen. Sementara itu, minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,26 persen setelah sehari sebelumnya melesat 4,73 persen.
Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing di pasar minyak nabati global.
Untuk pertama kalinya, importir India membeli minyak sawit dari Kolombia dan Guatemala. Langkah ini terjadi karena produsen di kedua negara tersebut menumpuk stok berlebih dan menawarkan kargo dengan diskon besar, menurut empat sumber perdagangan yang mengetahui langsung transaksi tersebut.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-20 Agustus naik antara 13,6 persen dan 17 persen dibanding periode yang sama bulan lalu, berdasarkan data dari surveyor kargo Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden AS Donald Trump diperkirakan memutuskan terkait tumpukan permintaan dari kilang minyak kecil yang mengajukan keringanan atas aturan bahan bakar nabati AS paling cepat pada Jumat ini.
Namun, keputusan apakah kilang besar wajib mengompensasi dengan meningkatkan pencampuran biofuel mereka diperkirakan ditunda, menurut dua sumber yang mengetahui perencanaan tersebut.
Sementara itu, ringgit Malaysia—mata uang perdagangan minyak sawit—melemah 0,14 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat minyak nabati ini lebih murah bagi pemegang mata uang asing. (Aldo Fernando)