Di sisi lain, data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei turun antara 8,8 persen hingga 15,5 persen dibandingkan April, mencerminkan permintaan global yang masih lemah.
Permintaan dari India, importir minyak sawit terbesar dunia, memang mulai pulih dari level terendah empat bulan yang tercatat pada April. Namun, volume pembelian masih berada di bawah tingkat normal.
Meski demikian, harga CPO tetap mampu mencatatkan penguatan mingguan ketiga berturut-turut.
Pelemahan nilai tukar ringgit menjadi salah satu faktor yang menopang harga karena meningkatkan daya saing ekspor minyak sawit Malaysia di pasar global.
Kenaikan harga minyak mentah dunia sepanjang pekan juga memberikan dukungan tambahan.