Pergerakan harga CPO turut dipengaruhi harga minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan penguatan seiring aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta sejumlah wilayah lainnya.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang berlangsung lebih lama.
Kenaikan harga minyak mentah juga membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel karena harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan daya saing minyak sawit untuk kebutuhan energi.
Dari sisi valuta, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO melemah 0,15 persen terhadap dolar AS.